Monday, April 26, 2010

"Ternyata Umat Islam itu Kaya"


Judul Buku            : Cahaya Langit, Hidup Tak Selamanya Hitam
                                      -Inspired by True Stories-
Penulis Buku         : Ust. Bobby Herwibowo, Lc
Penerbit                  : Kuwais
Bab                            : Keajaiban Doa dan Syukur

“ Ternyata Umat Islam itu Kaya! “

            Seorang sahabat bernama Andi, -bukan nama asli-, berkisah bahwa ia pernah bekerja di sebuah perusahaan Yahudi. Ia sudah menjadi manusia yang kaya raya di usianya yang belum lagi mencapai 40 tahun. Lebih dari 200 negara sudah ia sambangi. Semua itu dilakukan demi mencari kekayaan dunia untuknya, dan untuk perusahaan yang dimiliki orang Yahudi.
            Dia bertutur betapa satu sen pun harus dikejar dalam bisnisnya. Kerugian meski hanya satu dolar akan membuat pemilik usaha menjadi panik. Apalagi model krisis global seperti saat ini.
            Selalu mencari harta. Mengejar kekayaan dunia. Takut miskin. Itulah yang tertanam dalam benaknya!
            Namun dalam sebuah tugasnya di Maroko, Afrika Utara, Andi ini singgah di sebuah perkampungan muslim yang sederhana lagi bersahaja. Sebagai seorang muslim, kehadirannya di kampung itu disambut dengan baik oleh muslim disana.
            Andi dijamu makan dan makanan untuk disantap pun sudah tersaji di hadapan. Namun tidak seorang pun mulai menyantap makanan dan Andi pun belum lagi dipersilakan. Hingga seseorang datang ke dalam ruang  makan lalu menyampaikan berita kepada tuan rumah dalam bahasa Arab. Usai itu, Andi diberitahu oleh tuan rumah bahwa warga kampung muslim tersebut tidak akan pernah menyantap makanan, selagi mereka belum merasa yakin bahwa yang di luar sana tidak ada seorang pun yang kelaparan. Warga di dusun tersebut saling berbagi makanan antara satu rumah dengan yang lain. Dan orang yang datang sebelum santap makanan tadi, adalah pembawa kabar bagi tuan rumah yang menyampaikan bahwa ia sudah membagi makanan bagi penduduk kampung yang belum mendapat makanan.
            Malam itu Andi mendapat pelajaran berharga bahwa berbagi kepada sesama akan membawa ketentraman dan kebahagiaan. Penduduk desa ini mayoritas adalah penduduk miskin, namun mereka berbahagia dengan cara berbagi kepada sesama. Inilah pelajaran yang jauh lebih berbeda dari apa yang Andi dapatkan di perusahaan tempat ia bekerja.
            Usai dari Maroko, ia ditugaskan untuk terbang ke Cairo, Mesir. Perjalanan bisnis malam itu membawa dirinya untuk menyewa sebuah taksi di sana. Taksi di kota Seribu Menara itu dimiliki oleh perorangan, dan kebanyakan armadanya sudah jelek dan bobrok.
            Malam itu, Andi membuka pembicaraan dengan sopir taksi Mesir demi memecah kebekuan. “Berapa uang yang kau hasilkan dalam sehari dengan membawa taksi seperti ini?” Andi melempar tanya kepada sopir taksi.
            Di benaknya Andi akan membayangkan betapa jauh penghasilan yang akan disebutkan oleh sopir taksi ini dibandingkan penghasilan yang ia dapatkan di perusahaan Yahudi terkenal. “Aku tak membawa taksi ini seharian!” Jawab sopir itu dengan bahasa Inggris sekenanya.
            “Apakah kamu punya pekerjaan lain di luar sana?” Kejar Andi.
            “Alhamdulillah, aku punya dua pekerjaan yang diberi Allah untukku. Dan pagi hari sampai sore aku bekerja di restoran, malam harinya aku menjadi sopir taksi!” Sahut sang sopir.
            “Apakah hidup di Mesir sudah sedemikian sulit sehingga engkau bekerja double dan mencari nafkah sampai malam?” Tanya Andi lagi.
            “ Tidak, hidup di negeri ini sangat nikmat sekali! Dari pagi hingga sore aku mencari nafkah untuk diriku dan keluarga dan itu itu cukup untuk kami.” Jelas sang sopir.
            “Lalu mengapa engkau menjadi sopir taksi?” Kejar Andi.
            “Saudaraku, hidup ini hanya sekali. Dan aku ingin hidup yang cuma sekali ini berarti bekalku setelah mati. Maka sudah beberapa lama ini aku membawa taksi agar aku bisa mencari tambahan penghasilan dan kemudian aku sedekahkan kepada mereka yang membutuhkan,” jelas sang sopir.
            DEG! Kalimat itu terasa bagai kilat menyambar di hati Andi. Betapa hebat niat sopir taksi itu, gumamnya. Tak pernah dengan kekayaan yang dimiliki, Andi bercita-cita mulia seperti itu. Tak berani ia meneruskan pembicaraan dengan sopir taksi. Dalam hati Andi bergumam bahwa seluruh harta yang ia cari rupanya belum apa-apa, dibandingkan kekayaan hati yang dimiliki penduduk muslim miskin di Maroko dan sopir taksi shalih yang ia temui di Cairo, Mesir ini.
            “ Rupanya umat Islam lah yang memiliki kekayaan yang hakiki!” Gumam Andi.
            Rasulullah saw. bersabda,
            “Siapa di antara kalian di waktu pagi ia merasa aman rumah tangganya, sehat badannya, dan mempunyai persediaan makanan untuk hari itu, maka seolah-seolah ia telah mendapatkan kebahagiaan dunia dengan semua kesempurnaannya.” (HR. At-Tirmidzi)

5 comments:

the others... said...

Mbak, bukunya bagus banget.. jadi pengen baca buku itu secara lengkap deh. Makasih banget udah berbagi... ^_^

Wied's Loving Design said...

::: yupz... bukunya memang bagus... aq anjurkan beli... ^_^v.. jangan seperti aku , hehehe

Dhiah said...

Betapa kekayaan hati sesuatu yang jarang dihargai sekarang ini.
Semoga kita bisa mempertahankan penghargaan terhadap kekayaan hati itu, baik dalam diri maupun terhadap orang lain. amiin....

Eysa said...

Subhanalloh.

ica puspita said...

benar Wie, kekayaan yang menentramkan adalah kekayaan hati, kekayaan uang kita cari untuk diberikan pada yang membutuhkan...