Showing posts with label Istri Rasulullah saw.. Show all posts
Showing posts with label Istri Rasulullah saw.. Show all posts

Tuesday, June 21, 2016

Aisyah - Bagian 06

Judul Buku : Aisyah, Sejarah Lengkap Kehidupan Ummul Mu'minin 'Aisyah R.A.
Penulis : Sulaiman an-Nadawi
Penerjemah : Muhammad Rahmatullah an-Nadawi
Penerbit : Qisthi Press
Tahun Terbit : Cetakan Ke-5 - Januari 2016



AISYAH DI BAWAH PENDIDIKAN NUBUWAT
---


  • Sepertinya maslahat agama dan dakwah yang terbesar dari poligami ini adalah bahwa pernikahan dengan Aisyah secara dini telah membuat ratusan lelaki mendapatkan kesempatan untuk menjadi sahabat Rasulullah.
  • Nasib perempuan lebih kurang beruntung daripada kaum lelaki dalam mendapatkan anugerah persahabatan dengan Rasulullah, kecuali istri-istri beliau yang suci. 
  • Perempuan bisa melibatkan kaum lelaki dalam menikmati kebahagiaan kemudian menyebarkan kebahagiaan tersebut kepada semua perempuan di dunia. 
  • Istri-istri suci yang dinikahi Rasulullah s.a.w. dan yang paling mulia di sisi Allah semuanya adalah janda, kecuali Aisyah yang dinikahinya sejak masih kecil. 
  • Saat memasuki usia menuntut ilmu, Aisyah disinari oleh cahaya kebahagiaan di dalam rumah yang penuh berkah, yaitu rumah nubuwat dan risalah. Hal ini tentu tidak lain agar sosok Aisyah bisa menjadi pribadi yang besar, yang menjadi mercusuar, petunjuk serta sumur kebaikan dan berkah yang bisa ditimba airnya oleh kaum perempuan. 
  • Tak ada yang bisa menandingi Aisyah, baik laki-laki maupun perempuan, dalam hal kecepatan memahami, menyimpulkan dan mengingat segala sesuatu. yang tertangkap dalam benaknya. 


---

Konon, Aisyah telah mampu membaca Al-Qur'an dengan melihat (bukan dengan hafalan). 
Ilmu kedokteran diperoleh Aisyah dari utusan-utusan Arab yang datang kepada Rasulullah. Aisyah menjawab,"Wahai Urwah, saat Rasulullah sakit di akhir usianya, banyak sekali utusan bangsa Arab yang datang menjenguk beliau. Dari merekalah aku belajar bagaimana mengobati Rasulullah."

---


  • Bagi orang yang tidak tahu inti masalahnya dan tidak merenungkan secara mendalam, pertanyaan-pertanyaan Aisyah (kepada Rasulullah) kelihatan kurang sopan. Namun realitanya, jika tidak ada keberanian dari seorang perempuan seperti ini untuk bertanya kepada Rasulullah, niscaya umat Muhammad dewasa ini tidak akan mampun mengetahui hakikat kenabian. 
  • Tak diragukan lagi bahwa rumah Nabi s.a.w. merupakan sumber cahaya rabbani dan sumur anugerah nubuwat. Akan tetapi , rumah itu sama sekali tidak memiliki lentera-lentera duniawi. 


---


  • Pemikiran Timur dan Barat tentang perempuan sangat berbeda. Orang Timur beranggapan bahwa mencintai perempuan merupakan sumber aib dan bisa merusak kesucian. Tugas perempuan menurut mereka hanya terbatas pada urusan rumah tangga dan tidak boleh lebih dari itu. Sementara Orang Barat berpandangan bahwa perempuan adalah tuhan, atau sama dengan tuhan. Mereka menganggap bahwa keridaan seorang perempuan sama dengan keridhaan tuhan.
  • Sementara itu pandangan Islam terhadap perempuan berbeda dari kedua pandangan di atas. Islam mengambil posisi di antara keduanya dan tidak berlebihan. Islam tidak memposisikan perempuan sebagai tuhan, pun tidak menganggapnya sebagai benda nista atau penghambat jalan kehidupan. Dalam hal ini Islam telah memberikan pengertian yang baik tentang perempuan : "Perempuan adalah sarana untuk mendapatkan ketenangan dan pelindung untuk mewujudkan ketenteraman bagi umat manusia di muka bumi ini." Perhatikan pada al-Qur'an Ar-Rum :21.
  • Tak ada yang pernah mengeruhkan kejernihan hubungan Aisyah dengan Rasulullah sepanjang hidupnya kecuali ketika peristiwa ila' (sumpah Nabi untuk tidak menggauli istrinya).


---


  • Nabi s.a.w. membagi jatah giliran di antara istri-istrinya dengan adil. beliau berkata, "Ya Allah, ini adalah pembagianku atas apa yang kumiliki. Janganlah Engkau mencelaku atas apa yang Engkau miliki dan tidak kumiliki." Maksudnya adalah cinta Aisyah. 
  • Sabda Rasulullah s.a.w., "Seorang perempuan dinikahi karena empat perkara : hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka, pilihlah perempuan yang beragama, niscaya engkau akan beruntung."
  • Para Ummul Mukminin sendiri mengakui kedudukan dan posisi Aisyah di hati Rasulullah -kendati mereka didera cemburu-, sebab cinta yang tampak dari penjagaan Aisyah terhadap rahasia-rahasia Nabi s.a.w. sangat kuat dan dalam. Juga tak adala yang mempergauli Rasulullah lahir dan batin melebihi Aisyah.


---

Dalam riwayat lain Aisyah berkata, "Rasulullah s.a.w tengah mengobrol bersama kami. Namun jika waktu shalat telah tiba, beliau seakan tidak mengenal kami dan kami tidak mengenal beliau." (tentang menyegerakan shalat).

---

Dalam riwayat Ahmad, Aisyah berkata, "Jika Nabi s.a.w menyebut nama Khadijah, beliau selalu memujinya dengan sebaik-baik pujian." Aisyah melanjutkan, "Suatu hari aku pernah merasa cemburu terhadapnya. AKu berkata, 'Betapa sering anda menyebut namanya hingga ujung bibir anda memerah. Padahal Allah telah menggantikannya untuk anda dengan yang lebih baik.' Rasulullah pun menjawab, 'Allah tidak menggantikannya untukku dengan yang lebih baik. Ia beriman kepadaku saat orang-orang kafir menentangku, ia mempercayaiku saat orang-orang mendustaiku, ia memberikan seluruh hartanya saat orang-orang menahannya dariku. Allah telah menganugerahiku anaknya saat perempuan lain tidak memberiku keturunan'."

---

Aisyah menuturkan, "Aku memasang bantal yang di dalamnya terdapat lukisan-lukisan. Tatkala Rasulullah melihatnya, beliau hanya berdiri di depan pintu dan tidak mau masuk. Kulihat ada kebencian di wajahnya. Maka aku berkata, "Wahai Rasulullah, aku bertaubat kepada Allah dan Rasul-Nya, apa dosaku?" Beliau bertanya, "Ada apa dengan batal ini?" Aku menjawab, "Aku membeli bantal ini agar anda bisa duduk dan merebahkan diri di atasnya." Kemudian Rasulullah bersabda, "Orang-orang yang memiliki lukisan-lukisan ini akan disiksa pada Hari Kiamat, kepada mereka dikatakan, 'Hidupkanlah apa yang kalian lukis'." Beliau melanjutkan, "Rumah yang ada lukisannya tidak akan dimasuki malaikat."

--- 


  • Islam merupakan agama yang menggabungkan antara dunia dan akhirat. Hal-hal yang berkenaan dengan hakikat kesejahteraan dan kebaikan disebutkan tidak lain karena hal tersebut sesuai dengan fitrah dan karakter asli manusia. 
  • Ummul Mukminin Aisyah berkata, "Setiap hendak masuk ke dalam rumah, Rasulullah berhenti sejenak dan mengucapkan hadis qudsi ini, "Jika seorang anak Adam memiliki dua lembah yang berisi harta, niscaya dia menghendaki lembah yang ketiga, padahal mulutnya akan penuh berisi tanah. Dan Kami tidak menciptakan harta benda kecuali untuk melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat. Allah akan memberi taubat siapa saja yang bertaubat."


---


  • Aisyah menuturkan, "Rasulullah melarang kami lima hal : memakai sutra dan emas, minum di cangkir perak dan emas, berbantal warna merah, dan mengenakan pakaian yang buruk." Kemudian Aisyah bertanya kepada Nabi s.a.w., "Wahai Rasulullah, bagaimana dengan sesuatu yang tipis, terbuat dari emas untuk menyimpan misk (minyak wangi)?" Beliau menjawab, "Tidak, buatlah tutupnya berwarna keperakan dan kekuning-kuningan dengan campuran za'faran."



  • Suatu ketika, Nabi s.a.w. dihadiahi daging biawak, tetapi tidak mau menyantapnya. Aisyah lalu berkata, "Tidakkah lebih baik kita berikan kepada kaum miskin?" Beliau menjawab, "Jangan memberi mereka makanan yang tidak kalian makan."

  

Thursday, June 16, 2016

Aisyah - Bagian 05

Judul Buku : Aisyah, Sejarah Lengkap Kehidupan Ummul Mu'minin 'Aisyah R.A.
Penulis : Sulaiman an-Nadawi
Penerjemah : Muhammad Rahmatullah an-Nadawi
Penerbit : Qisthi Press
Tahun Terbit : Cetakan Ke-5 - Januari 2016



PERNIKAHAN YANG PENUH BERKAH
---


  • Khadijah adalah orang pertama di muka bumi ini yang beriman kepada Rasulullah s.a.w. dan memeluk agama Islam. 
  • Abu Bakar bertanya pada Khaulah, "Apakah pantas bagi Beliau mengingat Aisyah adalah anak dari saudaranya?" Khaulah kembali mendatangi Nabi s.a.w. dan mengulangi perkataan Abu Bakar. Beliau berkata, "Kembalilah dan katakan kepada Abu Bakar bahwa dia adalah saudaraku seagama, dan Aisyah halal bagiku." Setelah memahami masalahnya, Abu Bakar pun menerima pinangan Rasulullah. 
  • Dalam sahih-nya, Bukhari meriwayatkan Aisyah r.a., katanya, "Rasulullah s.a.w. bersabda,'Engkau telah ditampakkan kepadaku dua kali sebelum kunikahi. Aku melihat malaikan membawamu dengan diselimuti sehelai sutra. Kukatakan kepadanya, 'Bukalah.' Malaikat itu membukanya, dan ternyata itu adalah engkau. Kemudian aku berkata, 'Jika ini dari Allah, maka Dia akan memastikannya.' Kemudian aku melihat malaikat membawamu di balik sutra, aku berkata padanya, 'Bukalah'. Dia pun membukanya dan ternyata itu adalah engkau. Aku berkata, 'Jika itu dari Allah, maka Dia akan memastikannya'."
  • Aisyah menikah tatkala berumur 6 tahun. Bahasa Inggris mengistilahkannya precocious (pertumbuhan dini atau kematangan dini).
  • Riwayat lain dari Ibnu Sa'ad menyatakan bahwa Aisyah berkata, "Maskawin Rasulullah adalah 12 oka dan 1 nasy, yaitu setara dengan 5 dirham."
  • Riwayat lain mengatakan, "Rasulullah menikahi Aisyah pada tahun yang sama dengan meninggalnya Khadijah." Pendapat inilah yang dipilih oleh para peneliti dan dikuatkan oleh mayoritas riwayat yang sahih. 
  • Secara historis telah diketahui bahwa kaum Muslimin berhijrah dari Mekah dua kali. Hijrah pertama adalah ke negeri Habasyah, dan hijrah kedua adalah menuju ke Madinah. 
  • Abu Bakar bertanya, "Wahai Rasulullah, apa yang menghalangi anda untuk tinggal serumah dengan keluargamu (Aisyah)? Beliau menjawab, "Mahar." Akhirnya Abu Bakar memberikan beliau 12 oka (auqiyah) dan 1 nasy. Beliau pun memberikannya kepada Aisyah.

Di antara keutamanaan pernikahan Aisyah ini adalah bahwa prosesinya betul betul menghapuskan upacara dan tradisi yang tidak islami serta adat yang jauh dari tuntunan agama, yang saat itu telah mengakar di masyarakat Arab. 

1. Mereka mengira bahwa persahabatan dan persaudaraan setara dengan kekerabatan, sehingga terlarang untuk saling menikahi. 

2. Traddisi masyarakat Arab tidak membolehkan melakukan pernikahan pada bulan Syawal.

3. Di antara tradisi yang juga beredar di masyarakat Arab adalah menyalakan api di depan pengantin, dan suami tidak boleh menggauli istrinya untuk pertama kalinya kecuali di atas tandu atau kendaraan. 

Aisyah - Bagian 04

Judul Buku : Aisyah, Sejarah Lengkap Kehidupan Ummul Mu'minin 'Aisyah R.A.
Penulis : Sulaiman an-Nadawi
Penerjemah : Muhammad Rahmatullah an-Nadawi
Penerbit : Qisthi Press
Tahun Terbit : Cetakan Ke-5 - Januari 2016

PENDAHULUAN
---



  • Namanya yang dikenal oleh khalayak ramai adalah Aisyah, gelarnya ash-Shiddiqah, sering dipanggil Ummul Mukminin, dan nama keluarganya adalah Ummu Abdullah. Kadang-kadang dia juga dijuluki Humaira. Namun Rasulullah s.a.w. sering memanggilnya Binti ash-Shiddiq. 
  • Sejarah yang paling benar tentang kelahiran Aisyah adalah bulan Syawal tahun ke-9 sebelum Hijrah, bertepatan dengan Bulan Juli tahun 614 M, yaitu akhir tahun ke-5 kenabian. 
  • Aisyah berkata, "Aku tidak mengenal kedua orang tuaku, kecuali mereka semua telah memeluk satu agama."
  • Aisyah berkata, "Ada satu ayat yang turun kepada Muhammad s.a.w. di Mekah ketika aku masih kecil dan sedang bermain-main, yaitu ayat :
  • "Sebenarnya Hari Kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka dan kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit." (QS. Al-Qamar:46)


Aisyah - Bagian 03

Judul Buku : Aisyah, Sejarah Lengkap Kehidupan Ummul Mu'minin 'Aisyah R.A.
Penulis : Sulaiman an-Nadawi
Penerjemah : Muhammad Rahmatullah an-Nadawi
Penerbit : Qisthi Press
Tahun Terbit : Cetakan Ke-5 - Januari 2016


PENGANTAR BUKU SIRAH AISYAH R.A.
---


  • An-Nadawi memulai penulisan buku ini saat masih sebagai mahasiswa Darul Ulum Nadwah al-Ulama di Lucknow, India. Rencana penulisan buku ini dimulai sejak tahun 1906. 
  • Putri Bopal (Sultan Jihan Bicam) juga sangat peduli terhadap buku ini. Dia meminta an-Nadawi untuk segera menyelesaikannya. An-Nadawi menuruti permintaan sang putri , hingga berhasil menerbitkan buku ilmiah yang sangat berharga ini sebagai aset peradaban kuno dengan gaya modern dan menarik, dengan menggunakan metode ilmiah yang kokoh. 
  • Perempuan memiliki pengaruh dan peran yang besar dalam mengarahkan serta menghapuskan tradisi dan adat istiadat yang tidak islami di tengah masyarakatnya.

Aisyah - Bagian 02

Judul Buku : Aisyah, Sejarah Lengkap Kehidupan Ummul Mu'minin 'Aisyah R.A.
Penulis : Sulaiman an-Nadawi
Penerbit : Qisthi Press
Tahun Terbit : Cetakan Ke-5 - Januari 2016

RIWAYAT SINGKAT SULAIMAN AN-NADAWI
---



  • An-Nadawi merupakan salah satu anggota keluarga Husaini yang terkenal dengan ketakwaan dan ilmunya.
  • An-Nadawi lahir di sebuah desa bernama Desna di wilayah Bihar, India, pada hari Jumat, 7 Shafar 1302 H, bertepatan dengan tanggal 22 November 1884 M.
  • An-nadawi tumbuh dan hidup berlandaskan akidah yang jernih dan tidak tercampur dengan bid'ah dan khurafat. 
  • An-Nadawi sangat gandrung dengan aspek sastra dan sejarah yang terkandung di dalam Al-Qur'an. Bukti kecakapannya dalam hal ini adalah bukunya yang berjudul Ardh Al-Qur'an dan berjilid-jilid buku Sirah an-Nabi s.a.w., khususnya jilid keempat dan kelima yang membahas masalah amanat kenabian, akidah, ibadah dan akhlak, ditinjau dari sudut yang kontemporer dengan studi komparatif.
  • An-Nadawi banyak mematahkan argumen kelompok pengingkar sunah dan membongkar kebohongan-kebohongan mereka dalam banyak bukunya. 
  • Dalam karya-karyanya, dia mengikuti metode salaf yang menyatakan bahwa sumber utama syariat Islam adalah al-Qur'an dan sunah. Setiap pendapat yang bertentangan dengan al-Qur'an dan sunah harus ditentang dan dipatahkan. 
  • Kita lihat, dia tumbuh dan berkembang mengikuti mahzhab Abu hanifah tetapi di bidang fikih tetap membebaskan diri dan pemikirannya dari bayang-bayang taklid dan mazhab, serta fanatisme buta terhadap suatu pendapat ulama tertentu. 
  • An-Nadawi melihat perlunya kodifikasi ulang fikih Islam modern, karena zaman dan realitas kehidupan telah berkembang, dan persoalan semakin banyak dan bervariasi. 
  • Anda akan jarang menemukan syair-syair dalam karyanya. Dia tidak ingin mempermainkan perasaan para pembaca dengan syair-syair tersebut. Dia selalu mengerahkan segenap upayanya untuk mencari, meneliti dan melakukan kritik. 
  • Seluruh dunia takluk di bawah kepemimpinannya dalam hal sejarah dan penulisan buku sirah. Akan tetapi, sangat sedikit orang yang tahu kepiawaiannya dalam hal sastra, syair dan kritik. 
  • An-Nadawi yakin sekali bahwa bahasa Arab memiliki peran yang sangat urgen untuk mempersatukan kaum muslimin. 
  • An-Nadawi memiliki sekumpulan syair berbahasa Arab yang sangat indah. Syair-syair ini menunjukkan betapa lembut perasaannya dan betapa tinggi imajinasinya. Dia juga sangat mencintai kemuliaan dan hikmah. 
  • An-Nadawi wafat di Pakistan pada 1 Rabi'ul Akhir 1373 H, yang bertepatan dengan tanggal 22 November 1953 M. 


Aisyah - Bagian 01

Judul Buku : Aisyah, Sejarah Lengkap Kehidupan Ummul Mu'minin 'Aisyah R.A.
Penulis : Sulaiman an-Nadawi
Penerbit : Qisthi Press
Tahun Terbit : Cetakan Ke-5 - Januari 2016


PENGANTAR PENERJEMAH BAHASA URDU---
  • Penulis tidak akan pernah berhenti takjub dengan kemampuan intelektual Aisyah dalam semua bidang ilmu, bahkan sebelum usianya mencapai 18 tahun.
  • Kita tidak pernah menemukan seorang lelaki atau perempuan dalam sejarah umat manusia yang menyamai kedudukan dan kecerdasan Ummul Mukminin yang satu ini. Karena kedudukan dan keutamaannya inilah, maka Aisyah menjadi sosok yang kehidupan dan sirahnya layak untuk dipelajari, keistimewaan pribadinya layak untuk ditonjolkan, dan peran serta fungsinya bagi umat Islam sangat layak untuk selalu dikenang. Bahkan penghormatan semacam ini seolah menjadi hutang yang melilit leher umat Islam yang harus ditunaikan. 
  • Buku Syaikh an-Nadawi ini, menurut pendapat saya, bak sebuah ensiklopedi tentang budaya dan peradaban pada zaman Ummul Mukminin. 
  • Kebutuhan untuk menerjemahkan turats ilmu dan harta berharga ini ke berbagai bahasa di dunia sangat mendesak. Utamanya ke dalam bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur'an dan sunnah, agar manfaatnya bisa dirasakan oleh khalayak, dan kebaikannya bisa menyebar ke seluruh umat.
Nama penerjemah : Muhammad Rahmatullah an-Nadawi
Tahun pengantar : 2002 M / 1423 H

Monday, March 29, 2010

Belahan Jiwa Muhammad Saw.


Judul Buku         : Belahan Jiwa Muhammad Saw.
Penulis                 : Nurul ‘Aina
Penerbit               : Arkan Publishing, 2008
(buku milik Vielma Debby)


Khadijah binti Khuwalid

-    Dari pernikahan keduanya itu (baca: dengan Atiq bin Abid bin Abdullah), Khadijah dikaruniai anak perempuan bernama Hindun. Dari nama anak perempuannya inilah Khadijah biasa dipanggil Ummu Hindun (Ibnu Abbas).
-    Sosok (baca : satu sosok menyerupai manusia) iru kemudia menyeru para wanita Mekah dengan keras, “Hai para wanita Bani Taima (Bani Quraisy), akan datang seorang Nabi di negerimu yang bernama Ahmad. Nabi ini akan datang membawa amanah Allah. Maka, jadilah istrinya bagi wanita-wanita yang mampu untuk itu.”
-    Namun, Khadijah diam saja. Ia tidak ikut-ikutan melempari ataupun mengusir sosok tersebut. Khadijah hanya mengabaikannya.
-    Sayyidah Khadijah merupakan wanita ahli dagang yang memiliki kemuliaan dan harta berlimpah. Ketika ia mendengar kabar tentang pemuda Muhammad dari sisi kebenaran ucapan, keagungan jiwa amanah, dan kemuliaan akhlaknya, maka ia mengirim utusan kepadanya dan menawari Muhammad saw. untuk pergi berniaga menjual harta dagangannya ke negeri Syam. Khadijah menawarkan gaji yang lebih besar daripada yang biasa ia berikan kepada pedagang lainnya.
-    Ketika tiba di Mekkah, Muhammad saw. menyerahkan hasil perniagaannya kepada Khadijah. Majikannya itu memperoleh keuntungan dua kali lipat dari biasanya.
-    Nafisah binti Munayyah (sahabat Khadijah) itu pun menyampaikan pesan Khadijah kepada Muhammad saw., “Wahai anak pamanku, sesungguhnya aku tertarik kepadamu karena kekerabatanmu, kemuliaan yang engkau miliki di kalangan kaummu, jiwa amanahmu, baik budi bahasamu, dan kejujuran tutur katamu.” Melalui perantaraan utusannya itu, Khadijah menawarkan dirinya kepada Rasulullah saw. untuk dilamar dan dinikahinya.
-    Setelah mendengar pesan Khadijah lewat utusannya tadi, Muhammad saw. pun menceritakan hal itu kepada Abu Thalib bin Abdul Muththalib, pamannya tercinta. Mendengar hal itu, Abu Thalib sangat berbahagia. Ia pun berkata, “Sesungguhnya ini adalah rezeki yang Allah limpahkan untukmu, wahai Muhammad.”
-    Seluruh putra dan putri Nabi dilahirkan dari rahimnya (baca : Sayyidah Khadijah), kecuali Ibrahim yang lahir dari rahim istri Muhammad saw. yang lain, yaitu Mariyah Al Qibtiyah. Anak pertama Muhammad saw. dari Khadijah binti Khuwailid adalah Al Qasim. Dengan nama inilah Muhammad saw. dipanggil oleh Khadijah dengan panggilan Abul Qasim. Anak keduanya adalah Thahir atau Thayib. Ia dipanggil dengan nama Abdullah. Dinamai demikian karena Abdullah lahir pada masa awal dakwah Islam. Lalu lahir berturut-turut Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fatimah Az-Zahra.
-    Al Qasim meninggal dunia sebelum ayahandanya, Muhammad saw. diangkat menjadi utusan Allah. Ia meninggal pada masa jahiliah, sedangkan seluruh putrinya bertemu dengan Islam.
-    Dari pemikiran (baca: terheran-heran) itulah Muhammad saw. memperluas cakrawala pandangannya pada alam semesta beserta rahasia-rahasianya. Ia yakin bahwa di balik keheningan malam, di balik remang cahaya dan kerlip bintang-bintang di langit pasti ada mega kekuatan tersembunyi yang Maha Besar, mampu menciptakan alam semesta, dan mengaturnya dengan hukum alam yang sudah menjadi iradah (kehendak)-Nya.
-    Setelah mengarungi pernikahannya yang penuh ketenteraman selama lima belas tahun dan berolah pikir yang mendalam tentang al insane (manusia), al hayah (kehidupan), dan al kaun (alam semesta), turunlah wahyu kepada Rasulullah saw. di Gua Hira, tempat ia biasa berkhalwat, menyepi untuk berolah pikir dan berolah rohani.
-    Rasul pun berkata, “Khadijah, habislah sudah waktu untuk tidur dan beristirahat. Barusan, Malaikat Jibril menyampaikan waktu Ilahi. Allah Swt. memerintahkanku untuk memberi peringatan kepada umat manusia dan mengajak mereka bersujud dan beribadah hanya kepada Allah. Siapakah gerangan yang bisa aku ajak dan siapa pula yang akan menerima ajakanku?” Seketika itu juga, Khadijah tanpa keraguan sedikitpun menyatakan diri menerima ajakan suaminya, menerima risalah Allah yang dibawa suaminya. Khadijah menyatakan keimanannya kepada Allah dan membenarkan kerasulan Muhammad langsung do hadapan suaminya itu sendiri.
-    Ketika kaum Musyrik Quraisy memutuskan untuk melakukan pemboikotan kepada Rasulullah Muhammad saw., mereka pun memboikot Bani Hasyim dan Bani Abdul Malik Muthalib yang mereka anggap telah melindungi Muhammad saw. Sayyidah Khadijah tidak merasa ragu-ragu untuk keluar bersama Rasulullah saw., menemani beliau bersama-sama, menanggung penderitaan sebagai konsekuensi diembannya risalah Ilahi. Walaupun usianya sudah lanjut usia, Khadijah menyingkirkan keadaannya dengan semangat yang menggelora, seolah-oleh ia kembali muda.
-    Aisyah binti Abi Bakar r.a. berkata, “Khadijah wafat sebelum shalat diwajibkan atas kau Muslim. Itu terjadi tiga tahun sebelum hijrah.”

Saudah binti Zam’ah

-    Ibnu Abbas berkata, “Saudah binti Zam’ah dinikahi oleh Sakran bin Amar, saudara laki-laki dari Suhail bin Amar, yang bermimpi bahwa Rasul datang dan menginjak tengkuknya.” Lalu, Saudah menceritakan mimpinya itu kepada Sakran bin Amar. Suaminya itu kemudian berkata, “ Demi ayahmu, jika mimpi itu benar, aku akan meninggal dan engkau akan dinikahi oleh Rasulullah Muhammad saw.”
-    Abdullah bin Muslim berkata, “Rasulullah saw. menikahi Saudah pada bulan Ramadhan, tahun ke sepuluh kenabian, setelah Khadijah wafat, dan sebelum Rasulullah menikahi Aisyah. Rasul menyelenggarakan pernikahan itu di kota Mekah dan hijrah bersama Saudah ke Madinah.”
-    Ketika Saudah binti Zam’ah r.a. merasa bahwa usianya semakin lanjut, kondisi fisiknya yang mulai lemah, dan merasa sudah tidak mampu lagi melaksanakan kewajibannya sebagai istri, maka Rasulullah saw. berencana menceraikan dirinya.
-    Saudah berkata lagi, “Aku meminta kepadamu agar berkenan untuk merujukku kembali.” Maka Rasulullah saw. pun merujuk saudah kembali. Ketika permintaannya terkabul, dengan penuh kebahagiaan, saudah berkata kepada suaminya, “Wahai Rasulullah, hari giliranku menjadi milik Aisyah demi keridhaanmu agar aku dapat melihat wajahmu. Demi Allah, aku sudah tidak punya lagi keinginan sebagaimana wanita yang lain, tetapi aku ingin agar Allah membangkitkanku berada dalam golongan istri-istrimu pada Hari Kiamat nanti.”
-    Di antara istri Rasul, Saudah dikenal sebagai Ummul Mukminin yang tidak cantik secara lahiriah. Ia seorang wanita yang gemuk dan berkulit agak gelap.
-    Saudah paling suka membuat Rasulullah tersenyum dan tertawa. Ia dikenal sebagai istri Rasul yang humoris dan suka menghibur suaminya.
-    Saudah juga seorang wanita yang berperasaan lugu dan berpikiran sederhana hingga di antara Ummul Mukminin, ia dikenal sebagai wanita yang seadanya.
-    Karena keluguan dan kesederhanaan saudah ini juga yang membuat para madunya senang menggodanya, bahkan terkadang mempermainkannya.
-    Namun, walaupun Saudah adalah istri Rasul yang lugu dan berpikiran sederhana, ia juga dikenal suka memegang apa yang dikatakan suaminya.
 

Aisyah binti Abi Bakar

-    Dalam sebuat riwayat, Rasulullah saw. pernah bersabda tentang Aisyah binti Abi Bakar r.a., “Ambillah separuh (ajaran) agama mu melalui Aisyah.” Hadits tadi menunjukkan bahwa Aisyah binti Abi Bakar memiliki pengatahuan yang luas tentang ajaran Islam.
-    Aisyah juga dikenal sebagai seorang kritikus andal, sejarawan, dan mengetahui soal-soal pengobatan.
-    Saat Ishaq Al A’ma (si buta) berkata, “aku mengunjungi Aisyah dan aku mendengar ia memasang hijabnya yang memisahkan kami. Aku pun heran dan bertanya kepadanya, ‘Mengapa engkau memasang hijab dariku, padahal aku tidak bisa melihatmu?”. Aisyah menjawab “Kalaupun engkau tidak bisa melihatmu, tetapi aku melihatmu. Jadi harus ada hijab di antara kita.”
-    Aisyah pernah berkata, “Aku berharap, jika wafat, aku bisa menjadi barang yang tidak berarti serta dilupakan (Q.S. Maryam, 19:23).”
-    Dari informasi para perawi hadits Rasul yang tsiqat (terpercaya) itu, para wanita Muslimah selayaknya berlomba untuk mengetahui perikehidupan sekaligus meneladani istri yang dinikahi Rasulullah dalam keadaan masih gadis ini.
-    Sambil berlinang air mata, Aisyah bersaksi , “Demi Allah, aku tidak bertobat kepada Allah selamanya dari apa yang Rasul katakana. Demi Allah, sesungguhnya aku tahu jika aku mengakui sesuai dengan apa yang dikatakan orang-orang sedang Allah tahu bahwa aku bersih dari (perbuatan itu), maka sungguh aku telah mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terjadi. Jika aku mengingkari apa yang mereka katakana, mereka pasti tidak akan mempercayai dan tidak akan membenarkanku. Namun, aku akan mengatakan apa yang pernah dikatakan oleh Ya’kub a.s., Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku), dan Allah sajalah yang dimohon pertolongannya terhadap apa yang kalian ceritakan.” (Q.S. Yusuf, 12:18).
-    Bahwa sekalipun Aisyah adalah seorang istri pencemburu, ia tidak pernah mengungkap kecemburuannya kepada Ummul Mukminin lain yang dicemburuinya itu. Ia biasanya langsung menumpahkannya kepada Rasul.

Hafshah binti Umar

-    Walaupun telah diperingatkan oleh ayahnya, Hafshah tetap bersikap dengan keberanian moralnya yang tinggi. Tidak heran karena ia adalah seorang ahli menulis yang sangat faqih dan kritis. Mungkin karena itulah ia selalu mengungkapkan pendapatnya langsung di hadapan Rasulullah.
-    Rasulullah saw. pernah menceraikan Hafshah dengan talak raji (talak satu). Hal itu terjadi karena Hafshah sudah menyebarkan rahasia yang diminta nabi Muhammad saw. untuk disembunyikannya.
-    Sedangkan dalam satu riwayat disebutkan, “Rujuklah dengan Hafshah karena ia selalu berpuasa dan selalu shalat malam dan sesungguhnya ia adalah istrimu di surga.”
-    Rasulullah saw. pernah bersumpah untuk tidak mengunjungi para istrinya selama sebulan. Rasul demikian marah kepada mereka sehinggal Allah Swt. menegur beliau dengan menurunkan ayat tentang Aisyah dan Hafshah karena keduanya yang memulai aksi protes terhadap Nabi Muhammad saw. Jika kamu berdua bertobat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan), dan jika kamu berdua Bantu membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu, malaikat-malaikat adalah penolongnya pula.Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertobat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan. (Q.S. At Tahrim, 66:4-5).
-    Ummul Mukminan Hafshah sangat rajin membaca mushaf, mempelajari dan menelaah isinya. Karakter itulah yang menarik perhatian khalifah Umar bin Khattab dan mendorongnya untuk menitipkan mushaf itu kepada putrinya itu. Mushaf yang diseragamkan penulisannya yang didasarkan pada mushaf yang berada di tangan Ummul Mukminin Hafshah r.a. itulah yang kemudian dalam catatan sejarah Islam dikenal dengan nama Mushaf Utsmani.
-    Untuk menjadi sorang yang kritis itu ternyata mudah. Kita tinggal membiasakan diri bersikap rasional, tafkir syar’I (berpikir sesuai dengan hukum syariat) dan tafkir siyasi (berpikir politis, mampu mengungkap ada apa dibalik fakta).
-    Ia adalah wanita yang disebut Jibril dengan Shawwamah wa Qawwamah (wanita yang rajin shaum dan shalat).

Zainab binti Khuzaimah (Ummu Masakin)

-    Digelari ummul masakin atau “ibu bagi orang-orang miskin” karena kecintaan, rasa sayang, dan kepeduliannya terhadap kaum mustadhafin (dhuafa), fuqara (fakir), dan masakin (miskin).
-    Kita juga bisa menjadi seorang penyayang seperti Zainab binti Khuzaimah. Caranya yaitu dengan 3 hal yang bisa kita lakukan : 1.)Care  2.)Empathy  3.)Sympathy

Hindun binti Abu Umayyah (Ummu Salamah)

-    Termasuk ketika Rasulullah saw. datang melamarnya, Ummu Salamah tidak lantas menerima pinangan manusia paling mulia dari seluruh makhluk yang ada di bumi ini. Ia masih mencoba untuk menghindar pinangan istimewa itu dengan menyatakan “keberatan-keberatannya” yang jadi karakter seorang wanita yang menjanda. Ummu Salamah berkata, “ Aku adalah wanita yang sudah tua, aku pun seorang janda yang memiliki banyak anak yatim, dan aku pun seorang wanita pencemburu.”
-    Rasul menjalankan saran bijak dari Ummu Salamah dengan berdiam diri dari para sahabatnya, tetapi Nabi Muhammad saw. langsung memberikan contoh kepada mereka dengan menjadi orang pertama yang menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya. Para sahabat pun menyadari kesalahannya dan berlomba menjalankan perintah Rasul yang sebelumnya mereka abaikan. Saran bijak Ummu Salamah yang langsung dipraktekkan Rasulullah saw. telah menyelamatkan para sahabat dari murka Allah karena menyelisihi Rasul hingga membuat Rasul-Nya gusar.

Zainab binti Jahsyi

-    “Istri yang paling cepat akan menyusulku di antara kalian adalah yang paling panjang tangannya.”