Showing posts with label Akhlak. Show all posts
Showing posts with label Akhlak. Show all posts

Tuesday, April 20, 2010

"Buah Kejujuran, Keikhlasan, & Kesabaran"

Judul Buku        : Cahaya Langit, Hidup Tak Selamanya Hitam
                                      -Inspired by True Stories-
Penulis Buku     : Ust. Bobby Herwibowo, Lc
Penerbit               : Kuwais


“ 2,3 Atau 3,2 Milyar ?”
-    Inilah hakikat manusia yang kaya. Ia senantiasa merasa cukup atas karunia Allah Swt., tidak berharap lebih dari apa yang diberikan.
-    Kepasrahan diri kepada Allah Swt. merupakan jalan dalam menyelesaikan semua masalah. “Tidak ada masalah yang besar, semuanya kecil di mata Allah!” Gumam Syafe’i membesarkan hati.
-    Sungguh Allah maha tahu kebutuhan hamba-Nya , bahkan seringkali anugerah-Nya jauh lebih baik dari apa yang kita harapkan!

“ Bersabar Menunggu Panggilan Haji “
-    “Bu, banyak orang yang berhaji belum tentu mabrur di sisi Allah. Mungkin ini adalah jalan buat kita untuk meraih keridhaan Allah Swt. Biarkan kita hanya berhaji di pekarangan rumah kita sendiri, tidak perlu ke Baitullah. Bapak yakin bila kita menolong saudara kita, Insya Allah, kita akan ditolong juga oleh Allah Yang Maha Kuasa.”
-    Sungguh, kesabaran panjang yang diakhiri dengan pengorbanan kebaikan, akan berbuah di tangan Allah Swt. menjadi balasan yang besar dan anugerah yang tiada terkira.

“ Ya Allah, Kapan Aku Mengangkat Koperku Sendiri “
-    Setiapkali mengangkat satu koper, Mamat selalu membaca basmalah dan shalawat kepada Rasulullah saw. Sudah berpuluh koper yang ia angkat, hingga rasa itu muncul di dadanya.
-    “Ya Allah, kapan saya mengangkat koperku sendiri seperti ini?” Sebenarnya yang ia maksud adalah ia begitu berharap dapat berangkat haji ke Baitullah.
-    Di dalam kendaraan Mamat masih sepat berdoa kepada Allah Swt. untuk keluarga yang ia tinggalkan : “ Ya Allah, Engkau adalah pendampingku dalam perjalanan. Engkau juga yang menggantikan aku untuk menjaga keluarga yang ditinggalkan. Amin.” (HR. Muslim)

“ Dokter, Saya Keguguran Ya?!”
-    Mungkin Allah belum memberi saya anak supaya bisa selalu mencintai-Nya.
-    “Akhirnya saya jadi malu juga selalu meminta dalam berdoa kepada Allah. Sejak saat itu saya serahkan kepada-Nya apa yang terbaik untuk saya, dan saya semakin bertambah cinta kepada Allah,” jelas Ibu Loli.
-    “Sungguh mengagumkan keadaan orang mukmin. Keadaan mereka senantiasa mengandung kebaikan. Hal demikian itu tidak akan terjadi, kecuali bagi orang yang mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, hal itu merupakan kebaikan baginya. Dan jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar. Itupun, juga merupakan kebaikan untuknya.” (HR. Muslim)

“ Ikhlas dalam Beribadah “
-    Ikhlas adalah sebuah rahasia yang hanya diketahui oleh manusia selaku pelaku amal dan Allah Swt. saja. Tiada yang tahu selain mereka berdua, bahkan malaikat pencatat amal ataupun setan penggoda.

“ Ibu Gak Punya Duit, Nak!”
-    Allah Swt. yang mampu mengabulkan setiap permintaan hamba-Nya. Lagipula ia sudah tidak punya tempat lagi bersandar. Ia pulangkan semua kegelisahan itu kepada sang Khalik Swt.
-    “ Wahai Dzat Yang Maha Hidup dan berdiri, dengan rahmat-Mu kami memohon pertolongan. Perbaikilah segala kondisi hidup kamu. Jangan Engkau biarkan kami hanya bersandar pada diri sendiri meski hanya sekejap mata.”

Thursday, April 15, 2010

“Mengapa Enggan Bersyukur ?“

Judul Buku       : Sebening Mata Hati
Penulis Buku   : Asfa Davy Bya (Pemimpin Redaksi Majalah Az-Zikra)
Penerbit           : Hikmah (PT. Mizan Publika)

Bab                  : Akhlak Penuntun Kalbu

“ Mengapa Enggan Bersyukur ? “

-    Rasulullah saw. juga pernah melakukan qiyamul lail hingga kedua kakinya bengkak. Para sahabat bertanya, “Bukankah Allah telah mengampuni dosamu yang terdahulu dan kemudian?” Beliau menjawab, “Tidak layakkah aku menjadi hamba yang bersyukur?”

-    Syukur dengan lidah merupakan pengakuan atas anugerah dalam derajat kepasrahan, lidahnya tidak pernah lepas berzikir, tak pernah lepas beristigfar. Sedangkan syukurnya tubuh dan anggota-anggota badan lainnya harus dilakukan dengan bersikap setia dan mengabdi kepada-Nya. Dan syukurnya hati haruslah dicerminkan dengan merendahkan diri ke tataran sajadah sambil terus-menerus melaksanakan penghormatan kepada-Nya.

-    Al-Harits Al-Muhasibi berkata, “Rasa syukur yang paling tinggi adalah bila engkau menganggap setiap malapetaka yang menimpa sebagai duatu nikmat karena malapetaka yang menimpa manusia yang lain lebih dahsyat dan besar dibandingkan dengan malapetaka yang menimpamu. Pada saat manusia lainnya merasa butuh sabar, engkau malah bisa bersyukur.”
 
 

“ Mebudayakan Silaturahim “

Judul Buku       : Sebening Mata Hati
Penulis Buku   : Asfa Davy Bya (Pemimpin Redaksi Majalah Az-Zikra)
Penerbit           : Hikmah (PT. Mizan Publika)

Bab                  : Akhlak Penuntun Kalbu

“ Mebudayakan Silaturahim “

-    Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang ingin dilapangkan rezeki dan dipanjangkan umurnya, hendaklah dia menjalin silaturahmi,” (HR Muttafaq alaihi).

-    Seorang Muslim akan memperoleh dua pahala saat dia memperlakukan keluarganya dengan baik dan hormat, satu pahala karena meneguhkan tali silaturahi dan satu pahala karena memberikan sedekah.

Allah Swt. berfirman, “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros,” (QS Al-Isra [17]:26)

-    Islam bahkan mengajarkan kepada kita untuk menaruh hormat dan memberikan toleransi kepada tetangga kita yang non-Muslim sekalipun. Menghormati tetangga kita yang asing merupakan salah satu contoh toleransi yang ditekankan oleh Islam.

-    Saking pentingnya Islam memerintahkan kepada kita memelihara tali silaturahim, maka orang yang memutuskan tali silaturahim akan menerima kemurkaan dariNya, akan mengalami kesengsaraan dan bencana, dan akan dijauhkan surga bagi dirinya. Nabi saw. bersabda, “Seseorang yang memutuskan tali silaturahim tidak akan masuk surga,” (Muttafaq alaihi).

-    Nabi saw. menjawab, “Jangan karena jika kau membalas, berarti kau sama dengan mereka, bahkan hendaklah engkau cari jalan yang lebih baik dan tetap menyambung mereka, maka bantuan Allah selalu datang kepadamu sepanjang engkau berbuat demikian.”

-    Jangan lagi kita biarkan diri kita pintar berbicara tetapi sulit melangkah, jangan biarkan hati  dan pikiran kita dipenuhi dengan segudang ilmu agama yang tak pernah diamalkan.


 

“ Membentuk Keluarga Cerdas “

Judul Buku       : Sebening Mata Hati
Penulis Buku   : Asfa Davy Bya (Pemimpin Redaksi Majalah Az-Zikra)
Penerbit           : Hikmah (PT. Mizan Publika)

Bab                  : Akhlak Penuntun Kalbu

“ Membentuk Keluarga Cerdas “

-    Islam menggambarkan awal kebahagiaan dan kesuksesan seseorang bergantung dari bagaimana mereka bersyukur kepada Allah dan kepada orang tua mereka.

-    Jadi, kalau ada di antara kita yang sampai saat ini hidupnya masih saja berada dalam kesempitan, coba evaluasi kembali perjalanan hidup kita, mungkin saja kita dulu pernah menyakiti hati orang tua kita. Bergegaslah memohon maaf kepada mereka, dan ciumlah kaki mereka.

-    Seorang penyair asal Jordania, Kahlil Gibran berkata, “Anak adalah titipan yang kelak harus dipertanggungjawabkan oleh orang tua.” Karena itu, orang tua wajib mengajar dan mendidik anak-anak mereka.

-    Mendidik anak adalah amanah. Rasulullah saw. bersabda, “Setiap anak yang lahir itu sebenarnya dilahirkan di atas fitrah. Kedua orangtuanya lah yang akan membuatnya menjadi Yahudi, Majusi atau Nasrani,” (Al Hadis).

-    Salah satu kiat mendidik anak adalah dengan cara menanamkan pentingnya akhlak sedini mungkin. Imam Ja’far Shadiq berkata, “Tanamkan kepada anak-anakmu ilmu agama sedini mungkin sebelum musuh-musuhmu mengambil mereka darimu dan menanamkan pemikiran-pemikiran yang salah dan palsu ke dalam otak mereka.”

-    Saudaraku, ternyata kunci untuk membentuk keluarga yang cerdas adalah menjadikan diri kita sebagai pribadi yang cerdas terlebih dahulu. Pribadi yang cerdas adalah menjadikan diri kita sebagai pribadi sebagaimana yang disampaikan oleh Allah Swt., “Karena itu, ingatlah kamu kepada Ku, niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku,” (QS Al-Baqarah [2]:152). Dari sinilah memancarnya sakinah, ketenangan jiwa.


" Maaf itu Indah "

Judul Buku       : Sebening Mata Hati
Penulis Buku   : Asfa Davy Bya (Pemimpin Redaksi Majalah Az-Zikra)
Penerbit           : Hikmah (PT. Mizan Publika)

Bab                  : Akhlak Penuntun Kalbu

“ Maaf itu Indah “

-    Dikisahkan bahwa ketika berakhirnya Perang uhud, sebagian kaum Muslim mendapati bahwa wajah Rasulullah saw. luka dan didi beliau pecah. Mereka lalu berkata kepada Rasulullah saw., “Seharusnya Anda berdoa dan memohon supaya musuh itu binasa.” Namun Rasulullah saw. hanya menjawab, “Aku diutus bukan untuk melaknati, melainkan aku diutus sebagai dai dan pembawa rahmat. Ya, Allah, berilah petunjuk kepada kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengerti.” Dalam berbagai kesempatan Nabi saw. selalu bersabda, “Barang siapa memberi maaf ketika dia mampu membalas, Allah akan mengampuni dia pada saat dia kesukaran,” (Al-Hadis).

-    Para salafus shalih acap memohon maaf terlebih dahulu saat hendak berbicara dengan seseorang, dan selalu memohon maaf dengan meminta ampun kepada Allah Swt. dengan cara beristigfar ketika hendak berkhutbah.

-    Saudaraku, di dalam kata maaf sesungguhnya terdapat dua hal yang utama, yaitu: pertama, sikap meminta maaf dan kedua, sikap memberi maaf. Orang yang bijak adalah orang yang mau mengakui kesalahan dan segera meminta maaf atas kesalahannya.

-    Marilah kita tanamkan keindahan maaf di hati kita, dengan meniru perilaku para salafus shalih yang senantiasa memberi maaf kepada sesamam, dan setiap detiknya meminta maaf (ampunan) kepada Allah Swt. Mari kita basahkan lidah untuk beristighfar, kita amalkan shalat sunah tobat setiap harinya dengan tak lupa memanjatkan istigfar yang paling mulia (sayyidul istighfar) dalam doa kita.


“ Memegang Amanah “

Judul Buku       : Sebening Mata Hati
Penulis Buku   : Asfa Davy Bya (Pemimpin Redaksi Majalah Az-Zikra)
Penerbit           : Hikmah (PT. Mizan Publika)

Bab                  : Akhlak Penuntun Kalbu

“ Memegang Amanah “

-    Manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya yang paling sempurna sesungguhnya adalah makhluk yang berani mengambil resiko untuk memikul amanah yang diberikan Allah Swt., yang di dalam Al-Qur’an disebut sebagai amanah taklif. Inilah amanah yang langit, bumi, matahari, bulan, bintang-bintang, gunung-gunung, lautan, dan pohon-pohon tidak sanggup memikulnya. 

-    Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa amanah sebagaimana yang dimaksud dalam ayat di atas pernah ditawarkan Allah kepada Nabi Adam a.s. Dikatakan kepadanya, “Ambillah amanah itu dengan segala yang dikandungnya. Jika engkau taat, Aku mengampunimu, tetapi jika engkau durhaka, Aku akan mengazabmu.” Nabi Adam a.s. lalu menjawab, “Saya menerimanya dengan segala yang dikandungnya.”

-    Amanah dalam arti sempit adalah memelihara titipan dan mengembalikan kepada pemiliknya dalam bentuk semula. Sedangkan amanah dalam arti luas ialah menyembunyikan rahasia, ikhlas dalam memberikan nasehat kepada orang yang memintanya, dan benar-benar menyampaikan sesuatu yang ditugaskan kepadanya untuk disampaikan.

-    Apabila kita dapat memegang amanah tersebut maka kita disebut sebagai amin (dapat dipercaya).

-    Bagi seorang Mukmin, amanah adalah senantiasa memegang teguh dua kalimat syahadat, melalui lisan, perilaku, lahir dan batin. Tidak ada keimanan bagi orang yang tidak menunaikan amanah. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw., “Tidak (sempurna) iman seseorang yang tidak amanah, dan tidak (sempurna) agama orang yang tidak menunaikan janji,” (HR Ahmad).

-    Rasulullah saw. bersabda, “Masing-masing kalian adalah pemimpin dan masing-masing akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya,” (Al Hadis).


 

" Meluruskan Niat "

Judul Buku       : Sebening Mata Hati
Penulis Buku   : Asfa Davy Bya (Pemimpin Redaksi Majalah Az-Zikra)
Penerbit           : Hikmah (PT. Mizan Publika)

Bab                  : Akhlak Penuntun Kalbu

“ Meluruskan Niat “

-    Lalu Allah Swt. berfirman, “Bacalah catatan amalmu itu, dahulu kau pernah berkata, ‘Seandainya aku punya harta, pasti menunaikan ibadah haji, jihad, dan semua yang tercatat di dalamnya. Aku tahu persis bahwa niat (tujuan)-mu itu adalah sungguh-sungguh, maka pahala semua itu Aku berikan sekarang ini.”

-    Membersihkan niat artinya membersihkan hati kita dari segala sesuatu yang selain Allah. Sedangkan meluruskan niat artinya semua aktivitas kita semata-mata hanya untuk mencari keridaan Allah semata. Hal ini dimaksudkan agar dapat membersihkan akidah dan memurnikan tauhid dari segala bentuk kesyirikan.

-    Dengan membersihkan dan meluruskan niat, hati kita tak lagi bergantung kepada makhluk.

-    Dalam salah satu riwayat yang sanad-nya dari Zaid Maisarah dikatakan bahwa Allah Swt. berfirman, “Aku tidak menilai perkataan orang bijak, tetapi yang Kulihat adalah tujuan (niat)-nya, maka jika niatnya ditujukan kepada-Ku, maka Aku jadikan diamnya berarti berpikir, bicaranya sebagai zikir sekalipun dia diam (tanpa berkata-kata).”

-    Dia bahkan tidak butuh penghargaan dari manusia atas amal ibadahnya karena amalnya diam-diam. Para salafus-salih menjalani kehidupan seperti ini. Mereka saling memberi nasihat lewat tulisan (surat) kepada kawan mereka dengan tiga kalimat, yaitu : pertama, orang yang beramal untuk akhirat, pasti Allah akan mencukupi segala kebutuhan (urusan) dunianya. Kedua, orang yang niat tujuannya baik, pasti Allah menyatakan baik pula secara lahiriah, dan ketiga, orang yang memperbaiki hubungan dengan Allah, pasti Allah memperbaiki hubungannya dengan sesamanya.

" Mengutamakan Akhlak "

Judul Buku       : Sebening Mata Hati
Penulis Buku   : Asfa Davy Bya (Pemimpin Redaksi Majalah Az-Zikra)
Penerbit           : Hikmah (PT. Mizan Publika)

Bab                  : Akhlak Penuntun Kalbu


“ Mengutamakan Akhlak “

-    Di bawah kepemimpinan Rasulullah saw., yang dilanjutkan pada masa Khulafa Ar-Rasyidin, secara teoretis Islam telah menampilkan sebuah Negara Islam yang patut diteladani. Konstitusi Madinah, bersama dengan Al-Qur’an dan Sunah Muhammad, menjadi sumber untuk membangun masyarakat Islam.

-    Agaknya pertentangan antara dua aliran besar dalam Islam, Sunni dan Syiah terus terasa sampai sekarang. Perbedaan memang rahmat, tetapi nyawa mestinya tidak perlu melayang akibat perbedaan pandangan, perbedaan aliran atau mahzhab di dalam Islam.

-    Dan yang lebih parah, kita gemar membicarakan perbedaan mahzab di antara kita, tetapi lupa bahwa kita dipersamakan dalam syahadat.

-    Celakanya, ada sebagian ulama yang gemar mengeluarkan fatwa-fatwa sehingga berkembanglah persepsi yang keliru di masyarakat sehingga menentang fatwa ulama dianggap menentang ajaran Islam.

-    Kenapa kita tidak mencontoh sikap seorang guru besar dan pendiri Ikhwanul Muslimin, Imam Hasan Al-Banna.

Suatu ketika di permulaan bulan Ramadan, beliau datang ke sebuah masjid di Mesir. Dia menemukan jamaah masjid itu sudah terbelah dua. Mereka sedang bertengkar berhadap-hadapan, dengan suara yang keras. Satu kelompok menjelaskan bahwa tarawih yang sesuai dengan sunah Rasulullah saw. adalah sebelas rakaat. Kelompok lainnya, dengan merujuk pada Hadis yang lain, menegaskan bahwa shalat tarawih dengan dua puluh tiga rakaat adalah lebih utama. Hasan Al-Banna lalu bertanya, “ Apa hukumnya shalat tarawih?” Keduanya menjawab, “Sunah!” Beliau bertanya, “Apa hukumnya bertengkar di rumah Allah dengan suara keras?” Keduanya menjawab dengan suara lirih, “Haram!” Imam bertanya, “Mengapa kalian lakukan yang haram untuk mempertahankan yang sunah?” Dengan kalimat yang lain, Imam Hasan Al-Banna menegur kaum Muslim, “Mengapa kalian mempertahankan fikih dengan meninggalkan akhlak?”

-    Kita telah terjebak dengan selalu mengutamakan fikih dan melupakan akhlak. Padahal ketika seorang pria bertanya kepada Rasulullah saw., “Ya Rasululullah, apakah agama itu?” Rasulullah saw. menjawab, “Akhlak yang baik.”

-    Akhlak yang baik merupakan kunci kehidupan. Seorang sufi, Junaid Al-Baghdadi berkata, “Ada empat hal yang dapat mengangkat manusia ke derajat yang paling tinggi meskipun amal dan ilmunya sedikit: kesabaran, kesederhanaan, kemurahan hati, dan akhlak yang baik. Itulah kesempurnaan iman.”


" Meraih Cinta Ilahi "

Judul Buku       : Sebening Mata Hati
Penulis Buku   : Asfa Davy Bya (Pemimpin Redaksi Majalah Az-Zikra)
Penerbit           : Hikmah (PT. Mizan Publika)

Bab                  : Akhlak Penuntun Kalbu

“ Meraih Cinta Ilahi “

-    Cinta itu sebenarnya adalah milik hati, hanyahatilah yang bisa merasakannya. Setiap manusia adalah pencinta karena kita masing-masing memiliki hati.
 
-    Dan hati hanya bisa hidup jika diisi dengan cinta, tanpa cinta manusia akan kehilangan makna hidupnya.
 
-    Kita mengenal ada 3 (tiga) bentuk cinta dalam kehidupan ini. Pertama, cinta erotik. Cinta yang seperti ini hanya sebatas pada kecintaan lahiriah. Kedua, cinta simpati. Dasar cinta sudah berubah, tidak hanya tertarik pada wajah, tetapi sudah bersimpati pada keindahan dan kemurahan hatinya. Ketiga, cinta spiritual. Kita sudah mencapai tahap mencurahkan, memberi tanpa syarat, dan tak lagi merasa pedih dengan derita demi yang dicintai. Cinta seperti ini sudah jauh meninggalkan jasmani, sudah sampai pada bagian terdalam batin.
 
-    Lantas, mengapa hanya Allah yang berhak menerima cinta kita. Imam Al-Ghazali memberikan lima alasan :
1.    Manusia cenderung mencintai dirinya sendiri. Kesadaran diri yang tumbuh dari cinta itu pada gilirannya akan mengantarkan manusia pada mencintai Allah.
2.    Manusia cenderung mencintai siapa yang berbuat baik kepadanya. Jika dia sadar bahwa Allah Swt. telah berbuat baik kepada dirinya sepanjang hayatnya, maka tak ada alas an baginya untuk tidak mencintai Allah.
3.    Manusia cenderung cinta pada kebaikan seseorang, kendati kebaikan itu bukan untuk dirinya. Begitu juga dengan Tuhan sebagai sumber kebenaran, kebaikan dan keadilan, maka pantas Dia untuk dicintai daripada makhluk lainnya.
4.    Manusia cenderung cinta pad hal-hal yang indah dan bagus. Cinta kita kepada Allah bukan karena dapat melihat-Nya dengan mata kepala kita, melainkan dengan merasakan kehangatan dan cinta-Nya dengan kalbu kita.
5.    Manusia cenderung cinta dengan sesame lingkungannya. Karena Allah “sama” dengan manusia, dalam hal dimensi batiniah. Sifat-sifat Allah secara potensial dimiliki pula oleh manusia. Oleh karena itu, semakin mampu manusia mengaktualkan sifat-sifat Ilahiah dalam dirinya, maka akan semakin dekat pula dengan Allah.
 
-    Makna dari cinta Ilahi adalah cinta yang didasarkan pada kecintaa diri dan untuk Allah Swt. semata. Ia akan mengangkat pemiliknya pada derajat yang luar biasa, yang kelak pada hari ketakutan, berpasang-pasang mata akan melihatnya. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah terdapat manusia-manusia yang bukan nabi dan juga bukan syuhada, tetapi para nabi dan syuhada sendiri menginginkan keadaan seperti mereka.”
 
-    Bagaimanakah caranya kita dapat menggapai cinta kepada Allah? Sedikitnya ada 5 (lima) cara yang harus dilakukan, yaitu :
1.    Membaca Al-Qur’an setiap hari. Ibnu Mas’ud r.a. berkata, “Janganlah seseorang di antara kalian bertanya tentang cinta kepada Allah, tetapi tanyakanlah kepada dirinya tentang cintanya kepada Al-Qur’an. Jika engkau mencintai Al-Qur’an, maka engkau telah mencintai Allah, dan seberapa besar cintamu kepada Al-Qur’an, maka sebesar itu pulalah cintamu kepada Allah Swt.”
2.    Melepaskan dunia dan zuhud terhadapnya. Zuhud adalah menolak dunia, bukan membencinya, tetapi melepaskannya dari hati. Biarkan dunia ada di tangan kita, jangan sampai ke hati kita.
3.    Melaksanakan qiyamul-lail. Allah Swt. menyebut sifat hamba-Nya yang sangat mencintai-Nya sebagai berikut : “Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam. Dan pada akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah),” (QS Adz-Dzariyat [51]:17-18).
4.    Membiasakan diri untuk bertafakur. Di setiap saat, di mana saja, sejauh mata memandang, semuanya terdapat ayat-ayat Allah, tanda-tanda kebesaran Allah. Imam Ali bin Abi Thalib k.w. berkata, “Tafakur sesaat lebih baik daripada ibadah setahun.”
5.    Senantiasa bersyukur. Syukur adalah buah dari iman. Dan, rasa syukur yang paling tinggi adalah jika kita dapat menganggap setiap musibah sebagai suatu nikmat dan setiap nikmat  adalah suatu musibah.
 
-    Berikut ini ada doa dan munajat cinta Rasulullah saw. :  
"Wahai Tuhan kami, jadikanlah cintaku kepada-Mu sebagai sesuatu yang paling aku suka, dan takutku kepada-Mu sebagai rasa yang paling dalam. Putuskanlah segala kebergantungan dunia dariku, menggantinya dengan perasaan rindu berjumpa dengan-Mu. Jika Engkau memberikan kepada ahli dunia kesejukan harta mereka, makan jadikanlah kesejukan bagiku di dalam ibadahku.”