Showing posts with label Ibadah. Show all posts
Showing posts with label Ibadah. Show all posts

Monday, April 26, 2010

Dahsyatnya Kekuatan Iman dan Menjaga Ibadah


Judul Buku        : Cahaya Langit, Hidup Tak Selamanya Hitam
                                       -Inspired by True Stories-
Penulis Buku     : Ust. Bobby Herwibowo, Lc
Penerbit               : Kuwais


“Boleh Kami Numpang Shalat di Sini?”
-    Agama baginya bukan hanya di masjid dan dinikmati sendiri. Namun, agama menurutnya adalah dakwah, berbagi dengan sesame sehingga nilai dan sinarnya dapat dirasakan oleh orang lain.
-    Terkadang untuk menyampaikan kebenaran tidak perlu dengan ceramah dan retorika. Tutur kata yang santun dan perilaku mengesankan dapat membuat seseorang simpati lalu jatuh hati.
-    Terkadang bila ibadah sudah terwujud dalam akhlak seseorang, maka simpati dari sesama akan terbit dan menyinari kehidupan yang kita jalani. Ternyata, semuanya menjadi makin indah dengan ibadah!!!

“Kemana Aku Jual Rolex Ini?”
-    Ia berpasrah diri kepada Allah.Dia sampaikan kegalauan dan kepanikannya. Maka tawakal kepada-Nya pada waktu sulit adalah penenang jiwa ketika panik. Pelita hati dalam kegelapan hidup. Berpeganglah terus pada tali-Nya. Sungguh beruntung mereka yang bersandar hanya kepada Allah Ash-Shamad.
-    Tetaplah tersenyum di kala sempit. Percayalah, Allah Swt. tidak akan pergi meninggalkanmu. Jangan pernah takut saat hati resah. Kini sampaikanlah gundahmu hanya kepada Allah! Sungguh Dia amat Mendengar keluh seorang hamba-Nya.

“Rezeki itu Datang”
-    Betapa banyak setiap pagi hari di belahan bumi manapun di dapati wajah-wajah penuh ketegangan dan kepanikan yang memancarkan rona khawatir dalam mengais rezeki di pagi hari. Seolah mereka tiada memiliki Tuhan yang Maha Kaya Yang Mampu Menjamin rezeki setiap hamba-Nya.  Dialah Allah, Ar-Razzaq, Sang Pemberi Rezeki.
-    Tetap saja bekerja adalah sebuah prasyarat mulia untuk mendapatkan nafkah, dan para nabi manusia terhormat pun tetap melakukannya. Namun tekanan yang terpenting dalam mencari rezeki dan nafkah adalah ketaatan kepada Allah Sang Pemberi Rezeki.
-    “Sesungguhnya rezeki itu akan mencari seseorang dan bergerak lebih cepat daripada ajalnya.” (Shahih Jami’ Ash-Shaghir, no: 1630).

“Saya yang Akan Menanggung Beban”
-    “Benar, rezeki itu sudah diatur oleh Allah, tapi rezeki bisa ditambahkan bila kita gemar bersedekah. Perluaslah rezeki itu dengan memudahkan jalan orang.”

“Taubat dan Istighfar untuk Dosa 200 x Zina” 
“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Az-Zumar [39]:53)
-    “Tentu, kesempatan bertaubat akan selalu terbuka untuknya. Kedua tangan Allah Swt. akan selalu terbentang di waktu malam, agar orang yang berdosa di waktu siang sempat bertaubat. Kedua tangan-Nya pun akan selalu terbuka di waktu siang, agar orang yang berdosa di waktu malam sempat untuk bertaubat.”
-    Anas bin Malik berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Allah Swt. berkata, ‘ Wahai anak manusia, selama engkau berdoa kepada-Ku dan mengharapkan ampunan-Ku, Aku ampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan Aku tidak perduli. Wahai anak manusia, seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau meminta ampun kepada-Ku, Aku ampuni dosa-dosamu, dan Aku tidak perduli. Wahai manusia, seandainya engkau mendatangi-Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi, kemudian engkau menemui-Ku dengan tidak menyekutukan-Ku, pasti Aku akan mendatangimu dengan membawa ampunan sepenuh bumi.’ “ (HR. At-Tirmidzi).

“Menjaga Ibadah”
-    “Mohon maaf Pak, bukannya menolak, namun guru saya pernah mengajarkan bahwa shalat sunnah Fajar itu lebih mahal daripada dunia beserta isinya!”
-    “Dua rakaat Fajar (qabliyah Shubuh) lebih baik daripada dunia beserta isinya.” (HR. Muslim).

“Jangan Pernah Mengeluh, Pertolongan Allah Pasti Datang!”
-    “Apakah kamu mengira kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (Al-Baqarah [2]:214).

“Perbanyak Sujud”
-    Ia belajar menata hati dan kehidupan. Alhamdulillah! Ia tersadar dalam kesendirian. Ia sudah mulai shalat dengan khusyuk kepada Allah. Meski kedua kakinya sudah tidak ada, ia melakukannya sambil duduk di atas sajadah. Hal yang paling mengharukan setiap mata yang memandang adalah saat ketika Suci membenamkan keningnya di atas sajadah lamaaa sekali! Seolah ia berdialog dengan Allah Swt. dan mengakui segala dosa yang pernah ia lakukan.

“Memberi yang Terbaik untuk Allah”
-    “Kamu sekali-kali tidak sampai pada kebajikan (yang sempurna di sisi Allah), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (Ali ‘Imran [3]:92)
-    Semangat dalam berkurban adalah memberikan yang terbaik kepada Allah Swt., maka dalam bertaqarrub kepada Allah Swt. pun selayaknya manusia memberikan dal terbaik kepada Allah Swt., maka Allah Swt. pun akan memberikan hal terbaik juga kepadanya. Dan itu pasti!

“Flu Arab”
-    Kedua kakinya telah tiada namun seolah hal itu bukanlah halangan baginya untuk hadir ke Nasjidil Haram demi panggilan Tuhannya.
-    “Rupanya selama ini yang sakit bukanlah fisik saya, yang sakit parah ternyata saya sadari adalah hati saya. Saya berjanji kepada Allah Swt. sejak saat itu untuk tidak meninggalkan shalat berjamaah selagi saya tidak udzur (berhalangan),” jelas Kusuma.

"Ternyata Umat Islam itu Kaya"


Judul Buku            : Cahaya Langit, Hidup Tak Selamanya Hitam
                                      -Inspired by True Stories-
Penulis Buku         : Ust. Bobby Herwibowo, Lc
Penerbit                  : Kuwais
Bab                            : Keajaiban Doa dan Syukur

“ Ternyata Umat Islam itu Kaya! “

            Seorang sahabat bernama Andi, -bukan nama asli-, berkisah bahwa ia pernah bekerja di sebuah perusahaan Yahudi. Ia sudah menjadi manusia yang kaya raya di usianya yang belum lagi mencapai 40 tahun. Lebih dari 200 negara sudah ia sambangi. Semua itu dilakukan demi mencari kekayaan dunia untuknya, dan untuk perusahaan yang dimiliki orang Yahudi.
            Dia bertutur betapa satu sen pun harus dikejar dalam bisnisnya. Kerugian meski hanya satu dolar akan membuat pemilik usaha menjadi panik. Apalagi model krisis global seperti saat ini.
            Selalu mencari harta. Mengejar kekayaan dunia. Takut miskin. Itulah yang tertanam dalam benaknya!
            Namun dalam sebuah tugasnya di Maroko, Afrika Utara, Andi ini singgah di sebuah perkampungan muslim yang sederhana lagi bersahaja. Sebagai seorang muslim, kehadirannya di kampung itu disambut dengan baik oleh muslim disana.
            Andi dijamu makan dan makanan untuk disantap pun sudah tersaji di hadapan. Namun tidak seorang pun mulai menyantap makanan dan Andi pun belum lagi dipersilakan. Hingga seseorang datang ke dalam ruang  makan lalu menyampaikan berita kepada tuan rumah dalam bahasa Arab. Usai itu, Andi diberitahu oleh tuan rumah bahwa warga kampung muslim tersebut tidak akan pernah menyantap makanan, selagi mereka belum merasa yakin bahwa yang di luar sana tidak ada seorang pun yang kelaparan. Warga di dusun tersebut saling berbagi makanan antara satu rumah dengan yang lain. Dan orang yang datang sebelum santap makanan tadi, adalah pembawa kabar bagi tuan rumah yang menyampaikan bahwa ia sudah membagi makanan bagi penduduk kampung yang belum mendapat makanan.
            Malam itu Andi mendapat pelajaran berharga bahwa berbagi kepada sesama akan membawa ketentraman dan kebahagiaan. Penduduk desa ini mayoritas adalah penduduk miskin, namun mereka berbahagia dengan cara berbagi kepada sesama. Inilah pelajaran yang jauh lebih berbeda dari apa yang Andi dapatkan di perusahaan tempat ia bekerja.
            Usai dari Maroko, ia ditugaskan untuk terbang ke Cairo, Mesir. Perjalanan bisnis malam itu membawa dirinya untuk menyewa sebuah taksi di sana. Taksi di kota Seribu Menara itu dimiliki oleh perorangan, dan kebanyakan armadanya sudah jelek dan bobrok.
            Malam itu, Andi membuka pembicaraan dengan sopir taksi Mesir demi memecah kebekuan. “Berapa uang yang kau hasilkan dalam sehari dengan membawa taksi seperti ini?” Andi melempar tanya kepada sopir taksi.
            Di benaknya Andi akan membayangkan betapa jauh penghasilan yang akan disebutkan oleh sopir taksi ini dibandingkan penghasilan yang ia dapatkan di perusahaan Yahudi terkenal. “Aku tak membawa taksi ini seharian!” Jawab sopir itu dengan bahasa Inggris sekenanya.
            “Apakah kamu punya pekerjaan lain di luar sana?” Kejar Andi.
            “Alhamdulillah, aku punya dua pekerjaan yang diberi Allah untukku. Dan pagi hari sampai sore aku bekerja di restoran, malam harinya aku menjadi sopir taksi!” Sahut sang sopir.
            “Apakah hidup di Mesir sudah sedemikian sulit sehingga engkau bekerja double dan mencari nafkah sampai malam?” Tanya Andi lagi.
            “ Tidak, hidup di negeri ini sangat nikmat sekali! Dari pagi hingga sore aku mencari nafkah untuk diriku dan keluarga dan itu itu cukup untuk kami.” Jelas sang sopir.
            “Lalu mengapa engkau menjadi sopir taksi?” Kejar Andi.
            “Saudaraku, hidup ini hanya sekali. Dan aku ingin hidup yang cuma sekali ini berarti bekalku setelah mati. Maka sudah beberapa lama ini aku membawa taksi agar aku bisa mencari tambahan penghasilan dan kemudian aku sedekahkan kepada mereka yang membutuhkan,” jelas sang sopir.
            DEG! Kalimat itu terasa bagai kilat menyambar di hati Andi. Betapa hebat niat sopir taksi itu, gumamnya. Tak pernah dengan kekayaan yang dimiliki, Andi bercita-cita mulia seperti itu. Tak berani ia meneruskan pembicaraan dengan sopir taksi. Dalam hati Andi bergumam bahwa seluruh harta yang ia cari rupanya belum apa-apa, dibandingkan kekayaan hati yang dimiliki penduduk muslim miskin di Maroko dan sopir taksi shalih yang ia temui di Cairo, Mesir ini.
            “ Rupanya umat Islam lah yang memiliki kekayaan yang hakiki!” Gumam Andi.
            Rasulullah saw. bersabda,
            “Siapa di antara kalian di waktu pagi ia merasa aman rumah tangganya, sehat badannya, dan mempunyai persediaan makanan untuk hari itu, maka seolah-seolah ia telah mendapatkan kebahagiaan dunia dengan semua kesempurnaannya.” (HR. At-Tirmidzi)

Thursday, April 15, 2010

“ Dimana Keberadaan Tuhan “

Judul Buku       : Sebening Mata Hati
Penulis Buku   : Asfa Davy Bya (Pemimpin Redaksi Majalah Az-Zikra)
Penerbit           : Hikmah (PT. Mizan Publika)

Bab                  : Ibadah Penghuni Langit


“ Dimana Keberadaan Tuhan “

-    Tetapi seberapa luaskah langit di atas sana sehingga mampu mewadahi Zat Allah? Jika kita mengakui Allah berada di langit, berarti kita menolak eksistensi Allah di bumi. Apa iya?

-    Jika Allah berada di dalam surga, berarti surga lebih besar dari pada Allah.  Sungguh, Islam menolak konsep Allah berdiam di surga.

-    Padahal, Islam jelas mengatakan Allah itu Esa. Berarti konsep Allah berada di hati kita tak dapat diterima. Lantas, dimanakah Allah berada?

-    Di tengah jalan mereka bertemu dengan Imam Ali bin Abi Thalib k.w. dan berkata, “Aku sudah tahu apa yang kalian tanyakan dan kamu bantah, dan sekarang aku katakana bahwa Allah Azza wa Jalla yang mengadakan ‘mana’ (tempat), karena itu ‘mana’ tidak berarti bagi-Nya. Dia sangat tinggi untuk diliputi tempat. Dia ada di segala tempat tanpa bersentuhan dan bergandengan. Dia mengetahui segala yang ada padanya. Tidak ada sesuatu pun yang lepas dari pengawasan-Nya. Dan akan kuberitahukan kepada kalian tentang yang ada di dalam salah satu kitab kalian yang membenarkan apa yang kukatakan tadi, jika kalian tahu apakah kalian akan percaya?”

-    Imam Ali meneruskan, “ Tidakkah kalian membaca dalam sebagian kita kalian bahwa Musa bin Imran a.s. suatu hari pernah duduk, tiba-tiba datang kepadanya malaikat dari arah timur, lalu Musa a.s. bertanya, ‘Darimana kamu datang?’ Malaikat menjawab, ‘Dari Allah Swt.’ kemudaian datang lagi dari arah barat, dan Musa a.s. bertanya, ‘Dari mana kamu datang?’ Malaikat menjawab, ‘Dari Allah Swt.’ Kemudian datang lagi Malaikat dari langit ke tujuh dan berkata, ‘Aku datang kepadamu dari Langit ke tujuh, dari Allah,’ dan datang pula Malaikat lain yang berkata, ‘Aku datang dari bawah bumi yang paling bawah, dari Allah.’ Lalu Musa a.s. berkata, ‘Mahasuci yang tiada tempat yang kosong dari-Nya dan tiada satu tempat yang lebih dekat kepada-Nya daripada tempat yang lain.”

-    Allah Swt. mengatakan bahwa hanya kepada-Nya semua itu akan kembali. Dan kemudian, secara sangat jelas Allah Swt. mengatakan bahwa Eksistensi-Nya meliputi segala sesuatu!
“ Dan kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi dan kepada Allahlah kembali (semua makhluk),” (QS An-Nur [24]:42).

“ Kepunyaan Allahlah apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan adalah (pengetahuan) Allah Maha meliputi segala sesuatu,” (QS An-Nisa [4]:126).

-    Pertanyaan “di mana” dengan demikian hanya bisa dikenakan pada sesuatu yang berada di dalam ruang. Padahal yang terjadi pada Allah Swt. adalah sebaliknya : Ruang itulah yang berada di dalam Allah!

-    Jadi, tak usah bertanya di mana Allah Swt., tetapi tanyalah di manakah posisimu kelak saat Hari Perhitungan Tiba.


Tuesday, April 13, 2010

Pintu Tobat & Sakratulmaut

Judul Buku       : Sebening Mata Hati
Penulis Buku   : Asfa Davy Bya (Pemimpin Redaksi Majalah Az-Zikra)
Penerbit             : Hikmah (PT. Mizan Publika)
Bab                    : Ibadah Penghuni Langit

" Pintu Tobat selalu Terbuka "

- Tidak ada kata terlambat untuk bertobat dalam kamus Islam, kecuali pada saat sakratulmaut.

- Lalu malaikat Jibril berkata, "Ya, Muhammad, Allah menyampaikan pesan, 'Aku mengutus seorang hamba menghadap kepadamu. Setelah dia mengemukakan perbuatan dosa yang terlanjur dia lakukan, kamu merasa benci dan mengusirnya. Padahal, apa yang dikatakan itu barusatu bentuk perbuatan dosa saja. Lalu bagaimana keadaan orang-orang yang bersimbah dosa bila nanti mereka datang menghadap kepadamu untuk minta syafaat. Karena itu, ampunilah dosa hamba-ku itu karena Aku telah menerima taubatnya."

- Lalu Rasulullah saw. bersabda, "Apabila seorang pemuda yang bertobat meniggal dunia, maka Allah mengangkat siksa dari pekuburan kaum Muslim selama 40 tahun lantaran rasa hormatnya kepada Allah."

- Tak diragukan lagi bahwa rahmat Allah selalu mendahului murka-Nya. Tetapi, itu bukan alasan bagi kita untuk lalai dan ingkar beribadah dan menyembahNya. Karena, Allah telah memperingatkan kita kepada pedihnya murka-Nya itu jika kita mengingkari perintah dan melanggar larangan-laranganNya.

" Drama Sakratulmaut "

- Kematian seringkali ditolak karena kita tak tahu apa yang akan terjadi sesudahnya.

- Orang yang paham, sadar bahwa itulah tanda-tanda kita akan dijemput oleh Malaikat Maut. Lalu dia mempersiapkan bekal yang cukup untuk mengisi koper agar memperolah rahmat dan rida-Nya.

- Jika yakin bahwa Anda pasti mati, ada baiknya Anda membaca kitab-kitab yang bercerita tentang pedihnya sakratulmaut karena ia dapat memotivasi Anda melakukan perbaikan dan kebaikan.

- ita memerlukan momen dalam hidup ini untuk menghancurkan hati yang keras, untuk membiasakan jiwa agar lembut. 

Thursday, April 8, 2010

" Mengingat Kematian "

Judul Buku       : Sebening Mata Hati
Penulis Buku   : Asfa Davy Bya (Pemimpin Redaksi Majalah Az-Zikra)
Penerbit             : Hikmah (PT. Mizan Publika)

Bab                       : Ibadah Penghuni langit

“ Mengingat Kematian “

-    Pesan pengingat mati ini telah disampaikan Rasulullah saw., “Sering-seringlah kalian mengingat pemutus segala kenikmatan.’ Sebab dialah yang pemutus tali persaudaraan, perampas anak dan cucu dari orangtuanya, sesuatu yang datang dengan membawa petaka lalu membenamkan manusia dalam lorong kegelapan. Bukankah tak ada yang kekal di dunia ini, Allah Swt.berfirman dalam Surah Ar-Rahman (55):26*27, “Dan tiap-tiap yang ada di bumi ini akan binasa. Dan yang (kekal) adalah wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.”

-    Hal yang menggelikan adalah ketika ada seseorang dari mereka yang takut dengan kegelapan, lalu trauma dengan kegelapan! Padahal, rumah masa depan kita di alam barzakh adalah rumah kesunyian dan kegelapan.

-    Inilah saatnya (baca: sakratulmaut) apa yang disampaikan oleh Rasulullah saw., “Kepedihan kematian setara dengan tiga ratus pukulan pedang.” Dan apa yang diucapkan oleh Nabi Musa a.s., “Sakratulmaut yaitu ibarat seekor burung yang digoreng, tetapi ia tidak mati, ia diam tetapi tidak selamat, tetapi kemudian terbang.” Lalu bagaimana dengan kita , hamba-Nya yang pundaknya berat dengan beban dosa dan tangannya berlumur maksiat ini?

-    Demikianlah manusia, ada yan g takut mati , ada pula yang bermain-main dengan maut. Tetapi tidak berlaku bagi orang-orang yang beriman, mereka justru bergembira menghadapi kematian, karena itulah saat kekasih berjumpa dengan kekasih sejati-Nya.

-    Mengingat mati tidak sekedar mengingat, seperti murid yang sedang mengingat-ingat hafalannya. Tetapi mengingat berarti mengingatkan ruh dan jasad kita akan kematian yang datangnya tanpa permisi. Mengingatkan hati kita terus menerus bahwa hidup di dunia ini hanya sementara. Saling mengingatkan di antara kaum muslim bahwa dunia adalah ladang amal ibadah dan amal saleh belaka.


" Dari Umrah ke Umrah "

Judul Buku       : Sebening Mata Hati
Penulis Buku   : Asfa Davy Bya (Pemimpin Redaksi Majalah Az-Zikra)
Penerbit             : Hikmah (PT. Mizan Publika)

Bab                       : Ibadah Penghuni Langit


“ Dari Umrah ke Umrah “

-    Pada suatu musim haji, Imam Ali Zainal Abidin, cicit Rasulullah saw. ditanya oleh salah seorang sahabatnya yang gembira dengan banyaknya jamaah haji pada tahun itu. Tetapi yang ditanya tak menunjukkan kegembiraannya, seraya berkata, “Memang banyak jamaah haji, tetapi hanya sedikit yang beribadah haji.” Beliau melanjutkan, “Justru banyak di antara jamaah haji yang hadir di sini berbentuk seperti hewan.”

-    Rasulullah saw. bersabda, “(Pelaksanaan) Umrah hingga urah yang berikutnya adalah pelebur dosa (yang dilakukan) di antara keduanya,” (HR Bukhari, Tirmidzi, dan An-Nasa’i).
-    Sampai-sampai si Fulan yang hidup kesehariannya susah menjadi cemburu, “Apa iya ,hanya orang yang berduit saja yang akan dilebur dosa-dosanya, lalu bagaimana dengan kami yang melarat ini?”

-    Saudaraku, umrah secara syar’I bermakna, berziarah ke Baitullah dengan melaksanakan tawaf di sekelilingnya, sa’I di antara Shafa dan Marwah serta mencukur rambut kepala dan memendekkannya. Umroh adalah salah satu ibadah sunah di antara sekian ibadah yang kita kenal. Pemahaman si Fulan tadi menunjukkan bahwa dia belum memahami makna ibadah secara hakiki. Padahal cukuplah bagi mereka yang tak mampu, melakukan ketaatan-ketaatan yang difardukan secara khusyuk, dengan menghadirkan hati. Seperti shalat misalnya, sudahkah shalatnya dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Kalau belum, jangan berharap banyak dengan hal-hal yang sunah. Sebab, shalatnya masih sebatas pada gerak ritual belaka, nuansanya masih menggugurkan kewajiban belaka.

-    Hadis di atas janganlah hanya di artikan secara harfiah belaka, sebab jika begitu, ia hanya akan menjadi pajangan, tak mempunyai ruh sama sekali.


“ Istigfar Meraih Rezeki “


Judul Buku       : Sebening Mata Hati
Penulis Buku   : Asfa Davy Bya (Pemimpin Redaksi Majalah Az-Zikra)
Penerbit             : Hikmah (PT. Mizan Publika)

Bab                     : Ibadah Penghuni Langit

“ Istigfar Meraih Rezeki “

-    Allah telah menjamin rezeki anak cucu Adam agar mereka berkonsentrasi mengabdi hanya kepada-Nya dan agar mereka tidak sibuk mencarinya sehingga lalai dari ibadah kepada-Nya. Allah Swt. berfirman, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku. Aku tidak menginginkan rezeki sedikitpun dari mereka dan aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Allah lah Yang Memberi rezeki dan memiliki kekuatan yang sangat kukuh,” (Q.S. Adz-Dzariyat [51]: 22-23).

-    Namun, tetap saja manusia merisaukan rezeki, sampai-sampai Syaikh Abu Al-Abbas Al-Mursi berkata, “Dua hal yang paling sering menghijab manusia dari Allah Swt., yaitu kerisauan terhadap rezeki dan kecemasan terhadap makhluk.” Lalu bagaimana caranya agar kita tidak terjerambap dalam kerisauan ini? Seorang sufi, Syaikh Ibnu ‘Atha’illah As-Sakandari berkata, “Ketahuilah, hanya orang yang diberi taufiklah yang terhindar dari hasrat untuk mengatur urusan rezeki. Orang seperti itu sungguh telah mendapatkan anugerah yang besar. Mereka benar-benar percaya kepada Allah sehingga mereka merasa tenteram dan senantiasa bersandar kepada-Nya.”

-    Menurut Al-A’az Al-Muzanni r.a., Nabi saw. bersabda, “Kadang kala timbul perasaan dalam hatiku. Maka aku beristigfar (memohon ampunan) kepada Allah sehari seratus kali,” (HR Muslim). Abu Hurairah r.a. juga mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Demi Allah, dalam sehari aku beristigfar dan memohon tobat kepada Allah lebih dari 70 kali,” (HR Bukhari).


-    Ibnu Taimiyah berkata bahwa istigfar itu memberikan manfaat bagi orang yang berdosa meskipun dia tidak bertobat. Dengan catatan ia selalu beristigfar. Sebab, meskipun tidak disertai tobat, kadang istigfar ini bisa membuka pintu dikabulkannya permohonan ampun seseorang.

-    Istigfar merupakan kebutuhan manusia, seperti kebutuhan manusia kepada rezeki. Karena itu, Rasulullah saw. mengatakan bahwa dengan memperbanyak istigfar, Allah akan melimpahkan rezeki seseorang. Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa terbiasa memperbanyak istigfar, Allah akan melepaskannya dari segala kesukaran, melapangkannya dari segala kesempitan, dan memberinya rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangkanya,” (HR Abu Dawud).

-    Para sufi sudah terbiasa menyandarkan dirinya kepada Allah melalui tobat dan istigfar. Dan ketika mereka membaca ayat-ayat berikut ini:
“Maka Aku katakana kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu --- sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun --- niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula didalamnya) untukmu sungai-sungai. Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?” (QS Nuh [71]:10-13).

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di taman-taman (surga) dan mata air- mata air, sambil mengambil yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam. Dan pada akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah),” (QS Adz-Dzariyat [51]:15-18).

Maka bercucuranlah air mata mereka menyesali kelengahannya dalam hidup dan dia akan bersedih karena telah menyia-nyiakan keberadaannya di sisi Allah.

-    Syaikh Ibnu Atha’illah As Sakandari berkata, “Tak ada majelis bersama Allah yang paling bermanfaat bagimu selain majelis tempat engkau menyesali diri. Jangan menyesali diri sambil tertawa bahagia. Namun, sesalilah dirimu dengan jujur seraya menampakkan wajah suram, disertai kalbu yang sedih, kecewa, and perasaan hina. Apabila itu kaulakukan, pasti Allah mengganti kesedihan dengan keceriaan, kehinaan dengan kemuliaan, kegelapan dengan cahaya, ketertutupan dengan ketersingkapan”


Wednesday, April 7, 2010

" Bisikan Cinta Pencari Tuhan "

Judul Buku       : Sebening Mata Hati
Penulis Buku   : Asfa Davy Bya (Pemimpin Redaksi Majalah Az-Zikra)
Penerbit           : Hikmah (PT. Mizan Publika)

Bab                  : Ibadah Penghuni Langit

“ Bisikan Cinta Pencari Tuhan “

-    Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata, “Cinta itu laksana pohon di dalam hati. Akarnya adalah ketundukan kepada kekasih yang dicintai, dahannya adalah mengetahuinya, rantingnya adalah ketakutan kepadanya, daun-daunnya adalah malu kepadanya, buahnya adalah ketaatan kepadanya, dan air yang menghidupinya adalah menyebut namanya. Jika di dalam cinta ada satu bagian yang lowong, berarti cinta itu berkurang.”
-    Menurut Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam bukunya Siraman Ruhani bagi yang Mendapatkan Ketenangan Hati (Al-Jawab Al-Kafi liman Sa’ala’an Ad-Dawa’ Asy-Syafi: aw Ad-Da’wa Ad Da’wa), “Orang yang mencintai itu akan terus memperbanyak amalan sunah, sampai dia menjadi orang yang dicintai oleh Allah. Maka kecintaannya terhadap Allah mengharuskan dirinya untuk mencintai yang lain, juga karena Allah. Kecintaannya ini menyibukkan hatinya untuk selalu berpikir dan berdzikir kepada Allah serta melupakan segala kepentingan selain kepada yang dia cintai. Dan akan dia serahkan segenap jiwanya kepada Allah, tidak tertinggal sedikitpun dalam hatinya untuk yang lain selain Allah Swt. Dan dia telah memiliki seluruh hatinya, yang pada akhirnya akan menguasai jiwa dan ruhnya sepenuhnya mencintai Allah.”
-    “Katakanlah, ‘Jika Bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu peroleh, perniagaan yang kamu khawatir merugi, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasulnya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak menunjuki kaum yang fasik,” (QS At-Taubah [9]: 24).
-    Ayat di atas menjadi sala satu sandaran kaum sufi untuk menempatkan maqam cinta kepada Allah sebagai maqam tertinggi di dalam perjalanan menuju Allah Swt.
-    Ibrahim bertanya kepada Malaikat Maut, “Apakah seorang kekasih akan mematikan kekasihnya?” Lalu Alah Swt. menjawab melalui Malaikat Maut, “Apakah engkau berpikir bahwa seorang pencinta tak ingin berjumpa dengan kekasihnya?” Ibrahim a.s. kemudian berkata, “Kalau begitu, sekarang ambillah nyawaku.”


Tuesday, April 6, 2010

“ Cahaya Cinta Muhammad ”


Judul Buku       : Sebening Mata Hati
Penulis Buku   : Asfa Davy Bya (Pemimpin Redaksi Majalah Az-Zikra)
Penerbit           : Hikmah (PT. Mizan Publika)

Bab                  : Ibadah Penghuni Langit


“Cahaya Cinta Muhammad”

-    “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, Al-Qur’an dan Sunah. Barang siapa mencintai sunahku, berarti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku akan bersama-sama masuk surga bersamaku.” Khutbah singkat itu merupakan isyarat dari baginda Nabi saw. untuk mengakhiri tugasnya di dunia.
-    Rasulullah saw. bertanya lagi, “Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”Jibril menjawab, “Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku, ‘Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya.’ “
-    Sungguh tak ada kisah yang patut diangkat ketika maulud Nabi Muhammad saw. tiba dibanding dengan kisah detik-detik wafatnya Rasulullah saw. ini. Mengapa? Karena kisah ini, dibanding dengan kisah-kisah yang lain, tak akan sanggup mengangkat emosi umat yang mencintainya.
-    Dialah Rasul Allah yang datang memberikan kabar gembira dan peringatan kepada seluruh umat manusia dengan berbekal Al-Qur’an. Dan Al Qur’an adalah cahaya karena Al Qur’an adalah firman Allah, Dia yang mewahyukan dan menjelaskan ayat-ayatnya.
-    Menurut DR. Aidh bin Abdullah Al-Qarni M.A., “Sementara musuh-musuh Allah yang berpaling akan diharamkan dari cahaya itu sehingga akan terus berada dalam kegelapan. Mereka tidak akan mendapatkan cahaya. Karena cahaya fitrah bersandingan dengan cahaya hidayah. Dan cahaya Al-Kitab berdampingan dengan cahaya Rasul. Cahaya mata hati berdampingan dengan cahaya dalil.”
-    Betapa kecintaan para sahabat kepada Allah dan Rasul-Nya melebihi kecintaan mereka terhadap keluarga, harta, bahkan kecintaan terhadap diri mereka sendiri. Pernahkan Anda menatap wajah anak-anak, istri, atau suami Anda pada malam hari, lalu siapkah jika keesokan harinya mereka dijemput Malaikat Maut?
-    Tetapi tanamkan kecintaan kita kepada Rasulullah saw. dengan mencintai Al-Qur’an dan sunah-sunahnya dengan cara mengamalkannya. Mari kita akses cahaya ilahi dan cahaya Muhammad dengan menadaburi Al-Qur’an.
-    “Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah terdapat manusia-manusia yang bukan nabi juga bukan para syuhada, tetapi para nabi dan syuhada menginginkan keadaan seperti mereka.” (Sabda Nabi)

“ Shalat sebagai Mikraj Ruhani ”


Judul Buku       : Sebening Mata Hati
Penulis Buku   : Asfa Davy Bya (Pemimpin Redaksi Majalah Az-Zikra)
Penerbit           : Hikmah (PT. Mizan Publika)

Bab                     : Ibadah Penghuni Langit

“Shalat sebagai Mikraj Ruhani”

-    Shalat adalah syariat Islam yang diturunkan langsung dari langit oleh Allah Swt. kepada Rasulullah saw. pada saat beliau melakukan mikraj. Ia satu-satunya ibadah yang harus dilakukan tanpa terkecuali.
-    Shalat adalah ikatan diri dalam perlindungan Islam. Artinya, bila kita meninggalkan shalat berarti kita telah melepaskan diri dari ikatan Islam.
-    Jangan pernah sekali-kali kita bersangka buruk kepada Allah Swt. Sesungguhnya shalat dan rezeki dunia tak selalu dapat disandingkan ke dalam satu pelaminan.
-    Bagaimana cara menghadirkan hati saat shalat? Sebelum menjawab pertanyaan ini, marilah kita lihat dulu sejarah awal penciptaan manusia. Allah menciptakan manusia berupa jasad dan tanah selama 40 tahun. Ketika Iblis melewatinya, dipukullah jasad itu dan ia berbunyi seperti suara tembikat, dan itu mengagetkan para Malaikat. Lalu Allah Swt. berfirman kepada Para Malaikat, “janganlah kalian takut kepada orang ini karena Rabb kalian adalah tempat meminta segala sesuatu, dan orang ini adalah sesuatu yang berongga.” Rongga yang dipukul tadi adalah hati.
-    Getaran manusia berasal dari dua sumber : 9i) getaran hawa nafsu dan (ii) getaran Ilahiah.
-    Jika seseorang sudah membiasakan dirinya mengingat Allah dalam setiap kesempatan, niscaya dia dapat menghadirkan hati dalam setiap shalatnya.
-    Allah tidak bisa dilihat dengan mata, didengar dengan telinga, atau dipikir secara otak. Tetapi hanya bisa “dirasakan” dan “dipahami” kehadirannya dengan hati.
-    Secara fisik, shalatnya khusyuk dan thuma’ninah. Secara ruhani, kalbunya memancarkan pancaran energi yang berasal dari ayat-ayat Al-Qur’an yang senantiasa dibacanya. Saat itulah, sesungguhnya sedang terjadi komunikasi kita dengan Allah melalui hati, yang dilakukan secara energial.
-    Dan hubungan energial ini sebenarnya dapat terjalin dengan baik karena didukung oleh beberapa factor, yaitu : Pertama, factor gerakan shalat. Kedua, factor Kabah sebagai pusat energi. Ketiga adalah factor orang yang bertawaf.
-    Jadi, shalat sesungguhnya adalah sebuah meditasi energi bagi tiap orang-orang yang benar-benar menghadirkan hatinya saat shalat. Dia memahami betul bahwa saat itu dia sedang berkomunikasi dengan Allah, Dia sedang menatap dirinya. Dia  sedang melakukan perjalanan, mikraj secara ruhani!

“Keajaiban Shalat Tahajud”

-    Abdullah bin Mas’ud r.a. berkata, “Keutamaan shalat pada malam hari dibandingkan dengan shalat pada siang hari adalah seperti keutamaan sedekah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi dibandingkan dengan sedekah yang dilakukan secara terang-terangan.”
-    Pohon jihad fi sabilillah hanya bisa disirami dengan airmata orang-orang yang mengerjakan shalat tahajud pada kegelapan malam.
-    Shalat tahajud sejatinya adalah sarana untuk mendidik umat agar dapat ikhlas dalam menjalankan ibadah apa saja. Sehingga ibadah tak hanya bernuansa ritual belaka, tettapi memiliki nilai-nilai spiritual.
-    Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan, “ Amal yang paling bermanfaat adalah bila tak diketahui oleh orang lain ketika melakukannya karena ikhlas, juga tidak diketahui oleh jiwanya karena kebaikan yang terlihat olehnya. Nafsu dan makhluk lain tak melihatnya.”

“Meraih Senyuman Ilahi”

-    Alih-alih menjawab perrtanyaan muridnya, sang guru malah menasehatinya, “Wahai anakku, Allah memiliki anugerah pada waktu malam dan siang hari. Dia membenarkan hati yang tidak tertidur dan menyalahkan hati yang tertidur. Bentangkanlah dirimu untuk mendapatkan pemberian-pemberian tersebut.” Mendengar hal itu, si murid menukas, “Wahai guru, engkau telah memberikan pelajaran untukku agar aku tidak dapat tidur pada malam hari dan siang hari semampuku.”
-    Al-Fudhail bin Iyadh suatu ketika memegang tangan Al husain bin Ziyad, lalu berkata, “Wahai Husain, Alah Swt. turun setiap malam ke langit dunia, kemudian berfirman, ‘Berdusta orang yang menganggap dirinya kekasih-Ku tetapi ketika malam telah gelap dia tidur meninggalkan-Ku. Bukankah setiap orang yang bercinta akanmenyendiri dengan kekasihnya? Ini lah Aku, muncul menemui kekasih-Ku apabila malam telah gelap. Besok Aku akan menyejukkan mata kekasih-Ku di surga.”
-    Diriwayatkan dari Abu Darda r.a., dia mengatakan bahwa rasulullah saw. pernah bersabda, “Adi tiga macam kelompok manusia, Allah suka kepada mereka. Yaitu, orang yang ketika muncul sekelompok orang, dia ikut berperang dengan jiwanya di belakangnya karena Allah Azza wa Jalla. Mungkin saja dia terbunuh atau dimenangkan oleh Allah dan Dia mencegahnya dari pembunuhan. Allah berfirman, ‘Lihatlah hamba-Ku ini, betapa dia telah sabar dengan jiwanya karena Aku.’ Kedua, orang yang memiliki istri cantik atau memiliki tempat tidur yang lembut dan bagus, kemudian dia bangun untuk shalat alam, Allah berfirman, Dia  meninggalkan kesenangan dan mengingat-Ku. Andaikan berkehendak, dia akan tidur.” Ketiga, orang yang sedang bepergian, bersamanya orang-orang yang berkendaraan. Mereka terjaga kemudian tidur, tetapi dia (sendiri) bangun (untuk shalat) pada akhir malam, dalam keadaan susah dan senang,” (HR Thabrani).
-    Asyiknya lagi, Allah memberi ganti kepada orang-orang yang mengerjakan qiyamul lail – yang telah meninggalkan istrinya – dengan menggantinya dengan istri-istri bidadari yang banyak di surga.
-    Mulai mala mini, bangun dan dirikanlah shalat tahajud, mari berbondong-bondong kita meminang para bidadari di surga yang tengah menunggu pinangan kita.